Recent Post

Thursday, May 4, 2017


Di jaman ketika bepergian sudah menjadi gaya hidup seperti sekarang, mudah sekali bagi kita yang ingin bepergian untuk memilih. Mau pergi dengan moda transportasi apa, backpacking atau luxury, private trip atau open trip dan sekian macam pilihan lain tergantung anggaran dan kenyamanan.

Seiring dengan hal itu, makin banyak juga orang-orang yang punya pengaruh di dunia traveling membuka bisnis di bidang pariwisata. Beberapa kali saya berinteraksi dengan selebgram dan atau orang-orang yang terjun ke bisnis wisata. Ada sebagian dari mereka yang saya rasa belum memahami esensi bepergian untuk kaum pekerja office hour seperti saya.

Misalnya ketika saya pergi ke Flores hanya 4 hari, banyak yang langsung berkomentar: 4 hari itu kurang, harusnya jangan 4 hari, lain kali kalau kesini lagi jangan 4 hari ya, atau komentar sejenis. Mereka mungkin nggak kepikiran, ucapan mereka mengecilkan hati kami, eh, saya ding. Saya. Siapa tahu orang lain cuek aja “dingresuloni” begitu. Bagi saya, yang di tempat kerja bahkan nggak ada kebijakan cuti (yes, it’s true, saya cuma bisa mengajukan ijin), 4 hari itu sudah sangat bagus. Ada hal-hal yang harus saya ceritakan baik tersirat ataupun tersurat pada pimpinan divisi sebelum memberanikan diri mengajukan ijin. Harus pandai membaca situasi apakah pekerjaan sedang menumpuk atau sebaliknya, dan tanggapan dari seorang trip planner yang mengatakan: “harusnya jangan 4 hari” biasanya membuat saya kecil hati. Like I have other choices, in fact I don’t.

Menurut saya, daripada bicara angan-angan, lebih baik fokus ke apa yang ada. Bagaimana 4 hari itu bisa jadi menyenangkan, bisa jadi sarana memulihkan energi, membangun kenangan yang akan lekat terus di hati sanubari, jadi nggak menutup kemungkinan si klien akan kembali lagi karena bagi saya pribadi, pergi ke suatu tempat bukan tentang seberapa banyak sudut yang akan saya datangi, tapi bagaimana saya menikmati perjalanan itu. Klise ya? Tapi itu benar adanya. Daripada grusa grusu demi sebuah: biar dikunjungi semua, saya lebih memilih santai menikmati sebisanya.

“Sayang kan sudah sampai Flores tapi nggak nginep di sini, nggak melakukan itu, nggak nyobain ini” saya tahu. Saya paham. Tapi saya nggak punya banyak waktu. Lain kali kalau ada kesempatan saya pasti akan kembali, tanpa perlu mereka beri justifikasi.

Sebaiknya seorang trip planner banyak berkomunikasi dengan klien, berapa lama waktu yang dimiliki, apa goalnya dari trip tersebut. Kalau pun waktu yang dimiliki tidak ideal menurut perhitungan trip planner, katakan saja: kalau mau melihat A, atau ke tempat B, lain waktu bisa balik lagi, karena kalau hanya sekian hari tidak memungkinkan. Saya rasa itu tidak akan mengecilkan hati orang-orang seperti saya.

Tulisan ini sangat subjektif. Betul-betul hanya dari sudut pandang saya. Ini murni pengalaman saya, murni tentang apa yang saya rasakan ketika sudah susah payah mengajukan ijin dan lalu mendapat tanggapan: harusnya jangan begitu, blablabla, it’s like I got punch on my face. Bisa jadi orang lain tidak merasakannya, tapi saya rasa membagikan apa yang kita dapat dari sebuah perjalanan, walaupun itu hanya bias-bias perasaan tetap akan ada manfaatnya. Setidaknya untuk saya sendiri. Bercerita selalu akan membuat saya lega.



Ps: ngresulo dalam bahasa jawa kurang lebih artinya keluhan






Lilis, a story teller


2

Wednesday, September 21, 2016


Tahun ini, saya punya beberapa target pencapaian. Salah satunya, yang membuat saya meriang dan panas dingin adalah menyelesaikan studi. Bagi saya, menyelesaikan studi adalah sebuah perjalanan. Punya banyak makna, bukan hanya dari sisi akademis bahwa saya berhak menyandang  gelar baru di belakang nama, menjalani prosesi wisuda, diberi karangan bunga serta ucapan selamat dan lain sebagainya. Menyelesaikan studi adalah menepati janji. Pada diri sendiri. Pada orang tua yang mendoakan setiap hari. Menyelesaikan studi adalah menghela nafas sejenak, mengambil jeda untuk kemudian berjuang dengan lebih gigih lagi.

Nah, di waktu jeda itu, saya ingin sekali melakukan hal yang tidak biasa. A life changing experience, saya menyebutnya. Sebuah perjalanan yang dapat mengubah hidup. Bisa prinsip, bisa pandangan, bisa juga menambah pengetahuan dan memperluas pertemanan, apapun itu. Yang terlintas di pikiran saya adalah saya ingin melakukan sesuatu yang saya senangi, tetapi punya efek bahagia yang paripurna, yang bisa membuat saya banyak bercerita setelahnya, dan orang yang mendengar setidaknya bisa mengambil nilai atau mendapat pengetahuan dari cerita saya.

Saya memang senang bercerita. Untuk alasan itulah saya memiliki blog, kalaupun misalnya tidak ada teman yang kebetulan bisa saya ajak bicara, saya bisa menulisnya dengan senang hati. Belakangan saya sedang senang bepergian dan tentu saja saya menuliskan cerita perjalanan saya di blog. Bukan semata-mata karena ingin berbagi informasi atau "pamer", tetapi juga untuk kepuasan saya sendiri. Setidaknya saya punya kotak pandora kenangan perjalanan yang sewaktu-waktu bisa saya buka kalau nanti ingatan saya sudah melemah karena faktor usia. Hihi. 

Singkat kata, saya menceritakan keinginan itu pada sahabat saya. Setelah menyimak dengan seksama, dia bilang saya mungkin harus mengunjungi tempat yang saya cita-citakan dari kecil, atau tempat yang saya banget atau menjadi relawan untuk lembaga sosial atau lokasi-lokasi konservasi. Yang terakhir itu menarik perhatian saya karena ketika kami membicarakan keinginan saya itu, isu kebakaran hutan sedang merajalela. Pemberitaan tentang kebakaran hutan dan dampaknya memenuhi media di sana sini. Memikirkan hutan yang terbakar, saya lantas teringat spesies primata yang paling mirip dengan kita manusia: orang utan. Apa kabar mereka?

Sebetulnya bukan hanya kali ini saya penasaran dengan nasib orang utan. Saya sudah cukup lama berlangganan newsletter dari lembaga konservasi besar untuk paling tidak mengetahui apa yang terjadi pada hewan-hewan yang nyaris punah di Indonesia ini. Saya mengikuti beberapa akun media sosial para penggiat konservasi dan berpartipasi jika mereka membagikan informasi apa-apa yang dapat orang awam lakukan untuk sedikit membantu kelangsungan hidup hewan-hewan yang "rumah" nya dirusak paksa ini.

Sumber foto: bumikalimantan.com
Saya gembira ketika menyadari banyak sekali tagar-tagar berseliweran di sosial media tentang penyelamatan orang utan dan bagi orang seperti saya, yang belum bisa melakukan sesuatu secara langsung hal ini melegakan. Setidaknya, saya bisa memberi sumbangsih, meski belum maksimal. Saya salut banyak sekali orang kreatif yang menggalang dana dengan cara sederhana. Para pembaca diminta mengunggah foto memeluk misalnya, lalu diberi tagar #PelukUntukOrangUtan dan ternyata setiap foto yang diunggah bernilai rupiah yang akan digunakan untuk merawat si kera besar itu. Ada lagi tagar #SaveOrangUtan dan tagar #NowhereToClimb yang dipopulerkan sebuah akun konservasi dan lalu di sebarkan oleh banyak penggiat lainnya atas keprihatinan mereka bahwa kini orang utan tidak lagi banyak memiliki pohon untuk dipanjat dan dahan pohon untuk digelayuti. Yang membuat saya semakin salut, mereka juga membuka kanal-kanal bantuan bagia siapapun yang ingin menyumbang, lengkap dengan sistem pelaporan yang nantinya akan diterima oleh si penyumbang secara berkala.

Berbicara soal orang utan, saya sudah lama mendengar bahwa ada satu tempat di Borneo yang merupakan Taman Nasional tempat dimana kita  masih bisa melihat orang utan di habitat aslinya. Tempat itu juga sering disebut sebagai ibukota nya orang utan, hihi. Tempat yang dimaksud adalah Taman Nasional Tanjung Puting di tengah-tengah Pulau Borneo. Disebut ibukota karena di TN Tanjung Puting jumlah orang utan masih cukup "banyak", dan di situ pula aktivitas-aktivitas orang utan berlangsung. Maka, seperti juga bagi kita, Ibu kota adalah harapan. Pun Taman Nasional Tanjung Puting. Di tengah banyaknya pembakaran hutan, tempat ini menjadi oase. Di dalamnya, orang utan yang tersisa masih bisa melangsungkan hidup. Meski terkadang masih saja ada pemberitaan tentang tangan-tangan jahil yang melukai para orang utan ini.

Lihat mata sayu mereka :'(
Sumber foto: superadventure.co.id
Orang utan banyak diburu karena dianggap sebagai hama dan merusak tanaman perkebunan. Oleh sebab itu, mereka kerap dilukai dan dibunuh. Menyedihkan sekali membaca banyak kisah tentang orang utan yang ditemukan terluka akibat luka bakar, tebasan golok, tembakan senapan angin dan mengalami ketakutan hebat. Dua hal ini: pembakaran hutan dan perburuan adalah penyebab terus menurunnya populasi orang utan secara drastis. Padahal jika mau belajar lebih lanjut, keberadaan orang utan sangat bermanfaat. Mereka menyebarkan biji-bijian sepanjang wilayah yang mereka diami. Biji-biji itu nantinya akan tumbuh menjadi tanaman baru. Barangkali banyak orang belum mau meluangkan waktunya untuk membaca sabda alam dengan lebih jernih, bahwa seharusnya sebagai sesama makhluk hidup, kita tidak sepatutnya mengambil hak hidup makhluk lain dan merusak keseimbangan ekosistem. 

Orang utan telah banyak mengalami hal buruk, tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu. Dengan banyaknya gerakan-gerakan dan organisasi yang fokus ke penyelamatan orang utan di Indonesia, saya yakin perlahan kita bisa mengajak lebih banyak orang untuk peduli. Bagi orang yang belum ada kesempatan terlibat langsung dalam kegiatan konservasi seperti saya, ada banyak cara untuk turut membantu. Semua bisa dimulai dari hal paling kecil dan sederhana seperti ikut berkampanye di sosial media ataupun menyumbang dana langsung lewat lembaga konservasi terpercaya. Bisa juga dengan meminimalisir penggunaan barang yang dibuat dari kayu pohon seperti kertas dan tisu. Makin sedikit kita menggunakan, makin sedikit pohon ditebang, kan? Dengan begitu, kita akan merasa berguna dan telah sedikit berbuat sesuatu untuk negeri ini. 

Kembali ke rencana awal saya tadi, setelah memikirkan masak-masak, sepertinya saya memang harus berkunjung ke ibu kotanya orang utan. Melihat lebih cermat. Mempelajari dan merasakan atmosfer kehidupan mereka lebih lekat. Saya rasa ini akan sesuai dengan tujuan saya yang ingin melakukan a life changing experience. Saya yakin, sekembalinya dari sana, saya akan punya ber koper-koper kenangan, pengetahuan, dan cerita perjalanan.

Yang lebih menyenangkan, saya belum pernah ke Kalimantan. Padahal di kalangan para traveler, Kalimantan pasti masuk wishlist karena memiliki "si cantik" Pulau Derawan yang merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata bahari favorit di Indonesia. Derawan memang terkenal karena memiliki spot danau ubur-ubur tanpa sengat, titik selam yang berpemandangan menakjubkan, serta banyaknya penyu hijau yang lalu lalang. 

Jadi, sepertinya saya harus segera bersiap ya. Di Kalimantan, saya bisa belajar banyak di TN Tanjung Puting dan bersantai menikmati pantai di Pulau Derawan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hehe. Dengan begitu, perjalanan saya akan terasa makin berarti.




Lilis, she's now into a life changing experience








2

Monday, August 15, 2016



Sangat menyesal bulan juli lalu tidak ada satu postingan pun di rumah saya ini. Sebabnya, penulis sedang fokus menulis yang lain, yaitu tugas akhir. Hihihi. Sekarang semuanya sudah beres, jadi penulis bisa kembali bercerita dengan suka cita di sini, di rumahnya sendiri.

Di bulan Agustus yang gegap gempita penuh dengan acara yang ada kaitannya sama (pesta) kemerdekaan Indonesia, saya nggak ingin tiba-tiba menulis dengan patriotik, hehehe. Kayak biasa aja, mau cerita soal pengalaman pergi ke suatu tempat dari sudut pandang saya. Kali ini tentang gugusan pulau-pulau cantik dan sepenggal kenangan peristiwa sejarah di Kepulauan Morotai, Maluku Utara. 


Beberapa teman saya mengernyitkan dahi mendengar nama kepulauan ini. Mungkin waktu SD atau SMP, mereka sering bolos pas mata pelajaran sejarah! Hahahaha. Saya sendiri tidak banyak memiliki referensi, tetapi paling tidak saya ingat bahwa Morotai adalah wilayah yang disebut-sebut ketika kita mempelajari sejarah Perang Dunia II. Menyambangi Morotai Mei lalu, saya  akhirnya dapat mengunjungi museum perang dunia II itu. Semuanya masih tersimpan rapi. Benda-benda (bahkan uang logam yang dipakai jaman itu, senjata), diorama, juga cerita-cerita menarik dari Bang Mukhlis sang pengelola museum. Kabarnya, Bang Mukhlis ini sudah sangat sering diwawancara untuk kebutuhan pembuatan film dokumenter.



Berfoto bersama Bang Mukhlis
Selain sisa-sisa peristiwa besar perang dunia II, kita juga nggak boleh lupa bahwa Morotai adalah wilayah kepulauan. Wilayah yang pasti akan membuat pecinta laut jatuh hati. Sudah jadi rahasia umum kan kalau wilayah kepulauan, di Indonesia Timur pula, pasti wisata laut dan pantainya juara. Eh, JUARAKKKK kalo kata Milly di AADC 2. 

Titik-titik itu adalah kami yang sedang berenang :D


Bersamaan dengan trip Ternate yang saya ceritakan di sini, saya menuju Morotai dengan menaiki awan kinton kapal yang mulai bergerak meninggalkan dermaga Ternate sekitar pukul 19.00 WIT dan baru tiba di Morotai esok harinya, pukul 8 pagi. Alamaaakkk baru ini saya naik kapal selama itu. Untungnya kami tidur di bilik-bilik, yang meski sempit tapi ada AC dan kasur. Kelas VIP gitu ceritanya. Ada kelas ekonomi juga di bawah. Saya sempat melihat-lihat. Mereka memakai ranjang susun, tanpa sprei, ada kipas angin tua di beberapa titik, tapi bising bukan main karena dekat dengan tempat mesin kapal barangkali. Tapi banyak yang sudah bisa tidur dengan lelap, bahkan anak kecil pun. Damai sekali.

Kamar VIP
KM Ratu Maria Tenate-Morotai
Sampai di Morotai, kami ngaso di sebuah penginapan. Di sana kami siap-siap, ganti baju, sarapan dll dll sebelum akhirnya dibawa dengan bentor menuju Dermaga Daruba untuk island hoping. Fyi, di pulau tidak ada listrik. Padahal saya membawa floaties bebek besar yang harus dipompa! Hahahahaa. Kami akhirnya memompa floaties di penginapan, lalu tour guide mebawanya dengan bentor dan dipindahkan ke atas kapal yang mengangkut kami ke pulau. Ampun DJ, mau eksis meuni riweuh yah... *blushing*

Bebeknya kudu diiket di atas kapal hahaha
Hari itu, sehari penuh, kami berpindah-pindah ke beberapa pulau. Yang pertama pulau Zum-Zum Mc. Arthur. Dinamakan demikian karena di sana terdapat patung Jendral Mc. Arthur sang pemimpin sekutu. Dulu, dia menggunakan Pulau Zum-Zum untuk mengintai musuh mengingat pulau ini lokasinya sangat strategis meghadap Samudera Pasifik. Sayangnya, seperti yang sudah saya baca di beberapa portal berita, setelah bupati Morotai ditangkap KPK, lokasi patung itu terbengkalai. Sepi. Mc. Arthur berdiri tegak seorang diri.

Pulau Zum-zum Mc Arthur

Pulaunya kayak nggak keurus :(
Halo, General! How do you do?
Beberapa pulau setelahnya menyuguhi kami pemandangan pasir pantai putih halus, garis pantai memanjang dan air laut yang jernih dan hangat! Wohooooo. Ada pulau Kokoya, Dodola Besar dan Dodola Kecil. Kami juga menikmati makan siang (tentunya dengan lauk ikan, hihi) di Pulau Kokoya. Di sana ada juga ada penyedia permainan banana boat. Sayang saya lupa menanyakan berapa tarifnya. Morotai juga terkenal di kalangan para penyelam karena memiliki spot selam yang khas dengan bangkai kapal nya. Tapi saya dengar, titik selam itu hanya bisa untuk penyelam bersertifikasi. Mungkin karena kedalaman, arus bawah laut dan banyak faktor penyelaman lain. Enak ya kalau bisa nyelam. Bisa melihat sisa sejarah di darat, di laut, dapat bonus pemandangan karang-karang warna-warni dan sehat pasti. 




Kalau sudah begini, sulit untuk tidak jatuh cinta kan? Trip saya ke Morotai kemarin makin mengesankan karena dokumentasi yang lengkap dari tim Trip Indonesia Timur. Mereka memiliki drone yang membuat hasil foto lebih dramatis. Setelah pulang dan mengunggah foto-foto Morotai dari atas, makin banyak lagi yang jatuh cinta pada Morotai. Meski belum tahu kapan bisa berkunjung, setidaknya mereka tahu dulu. Jatuh cinta dulu. Kalau sudah jatuh cinta pasti mau melakukan berbagai usaha. Mah.... curhat dong Mahhhh.....



Di Morotai juga terdapat monumen Trikora. Hal bersejarah lainnya disamping PD II. Kalau waktu terbatas seperti saya, begitu selesai island hoping, kembali ke penginapan, cepat mandi dan langsung saja ke museum karena malam pukul 19.00 WIT kapal segera kambali ke Ternate.




Mengenai itinerary dan biaya trip ini sudah satu paket dengan trip Ternate yang diatur oleh tim Trip Indonesia Timur. Jika menginginkan itinerary sendiri, mungkin ingin berlama-lama atau bahkan menginap di Morotai, atur saja dengan mereka. ;)


Bikin formasi sama travelmates, difotoin sama Ilham.

Ps: Semua foto drone diambil oleh pilot nya --> @ilhamarch

Terbangkan terus Kakak Il! Jang kasi turun! :p







Lilis, pembelajar sejarah, penikmat kenangan, penyuka pantai.



1

Wednesday, June 22, 2016


Ternate adalah ibu kota provinsi Maluku Utara. Awalnya, kota ini tidak masuk wishlist saya untuk tahun 2016 karena kurang populer dibanding Raja Ampat, Derawan, Pulau Komodo, bahkan Sumba (yang selama ini saya idam-idamkan). Jika mendengar Maluku Utara, saya malah memikirkan Jailolo, yang terkenal karena setiap tahun menggelar hajatan Festival Teluk Jailolo. Saya belum pernah kesana, semoga suatu saat nanti. Amin.

Anak-anak Ternate asik bermain
Nama Ternate mulai saya pikirkan sejak mengikuti beberapa akun instagram yang hits (terlihat dari jumlah pengikut dan jumlah likes di setiap fotonya) karena selalu memposting foto-foto indah Indonesia Timur: @ilhamarch. Fyi, saya sangat menyukai media sosial yang satu itu. Too many beautiful pics there. Dari mengikuti akun Ilham, saya mengikuti beberapa akun lain yang juga memiliki postingan sejenis dan selalu menulis Ternate di kolom lokasi.

   

Dari situ saya mulai mencari tahu tentang Ternate terutama tentang potensi wisatanya dan tercenganglah saya. Bukan hanya Ternate, ternyata banyak lagi tempat di Maluku Utara yang indah bukan main. Beruntung beberapa teman lain tidak kalah terpesona dengan saya, maka mencari travelmates untuk pergi ke Ternate menjadi sangat mudah. Tidak butuh waktu lama, Ternate langsung masuk wishlist dan kami segera membeli tiket pesawat ke sana.

I Love Ternate. What about you? ;)
Mengenai Ternate yang semula tidak ada wishlist, kami menjadi minim informasi. Maka itu kami putuskan untuk ikut trip yang sudah jelas itinerary nya yaitu trip yang ditawarkan oleh @tripindonesiatimur yang tidak lain dimotori oleh si pemilik akun @ilhamarch. Kami dengan mudah dapat menentukan untuk ikut trip itu karena setiap kali browsing, nama Trip Indonesia Timur selalu keluar di halaman awal. Mungkin karena belum banyak trip operator atau trip planner yang menjual paket wisata Ternate.

Alasan lain memilih Trip Indonesia Timur  adalah karena mereka memiliki alat dokumentasi yang lengkap. Action cam, osmo, dome dan drone. Itu yang membuat kami tertarik. Meski ketika snorkeling akhirnya dome tidak digunakan, kami masih cukup puas dengan dokumentasi drone yang juga disunting oleh Ilham.

Mendarat dan langsung disambut Gunung Gamalama
Begitulah kemudian kami pergi ke Ternate pada libur panjang bulan mei 2016. Tidak seperti kebanyakan tempat wisata, meski libur panjang, Ternate tidak macet. Tempat wisata ramai, tetapi tidak sampai membuat kami kehilangan kenyamanan. Excellent!

Senja yang sedikit mendung di Ternate
Kami pergi ke beberapa tempat yang sangat ikonik seperti benteng-benteng, salah satunya Benteng Tolucco. Benteng peninggalan Portugal ini terkenal karena bentuknya yang unik menyerupai alat kelamin pria. Ouchhh. Mengenai sejarah dan info lain tentang Benteng Tolucco, you can google it.


Benteng Tolucco, foto oleh Ilham
Kami juga pergi ke pantai Fitu. Pantai ini, adalah pantai yang ada di lembaran uang 1.000 dengan latar Pulau Tidore dan Gunung Maitara. Yang membuat saya sangat gembira adalah ketika kami datang, ada sebuah kapal dan sebongkah awan di deket Gunung Maitara, membuat pemandangan itu makin mirip dengan yang ada di uang 1000. Epic!!!

Pantai Fitu
Mirip, kan? ;)
Ada juga benteng Kalamata, yang berdiri dekat dengan laut. Membuatnya semakin megah ketika dipotret dari atas. Setelah dari benteng, kami menuju Kedaton Kesultanan Ternate. Saya sempat heran bahwa kedaton itu tidak berpenjaga di gerbang depan sehingga kami bisa langsung masuk. Menurut Bang Yun yang menemani kami, kedaton tersebut saat ini masih didiami keluarga sultan.

Benteng Kalamata yang siang itu menjadi "runway" kami :D
Kedaton Kesultanan Ternate
(bukan) Keluarga Sultan :p
Kami juga mengunjungi Danau Tolire dan Danau Ngade. Keduanya juga cantik dipotret dari ketinggian. Di tempat kami menikmati pemandangan Danau Ngade bahkan Bang Yun memanjat pohon kelapa dan memetik beberapa setelah mendapat ijin si pemilik tentunya. Minum air kelapa langsung dari kelapa yang barusan dipetik. Segar... Tidak ketinggalan, kami juga snorkeling di teluk Sulamadaha. Malam hari, kami jalan-jalan di kota berwisata kuliner. 

Danau Tolire, sesaat setelah diguyur hujan

Danau Ngade
Menurut saya, Ternate sangat recommended bagi wisatawan dengan ritme agak santai. Di kota itu, lokasi-lokasi wisata jaraknya tidak terlalu jauh. Jadi kita tidak terburu-buru. Tempat-tempat yang dikunjungi pun sangat menarik, apalagi jika Anda seorang fotografer atau seseorang yang memiliki hobi memotret. Everything is in good harmony. Instagramable banget. Hehehehe. Sedangkan wisata airnya, snorkeling di Teluk Sulamadaha menurut saya biasa saja. Tidak jelek, tapi juga tidak outstanding. Saking asiknya, saya bahkan tidak sempat mengambil gambar apapun di Sulamadaha -_-

Batu Angus

Jangan ngelamun, Mas Yogo :p
Benteng Kalamata, foto oleh Ilham
Sebetulnya masih banyak tempat lain yang karena keterbatasan waktu yang saya miliki, belum saya kunjungi. Saya dengar ada Pantai Jikomalamo, Masjid Apung di pusat kota dan barangkali jika waktu mencukupi bisa melipir ke Tidore dengan kapal fery.

Pelabuhan Ternate
Selain itu, jika ikut trip di tanggal merah panjang, pastikan Anda ngobrol lebih detail dengan Ilham. Tanyakan dimana nanti Anda menginap, kendaraan apa yang akan dipakai, sudah menikah atau belum dan hal-hal krusial lain. Berdasarkan pengalaman saya, kami ke Ternate ber 6 dan disana kami diberi fasilitas mobil xenia plus supir dan guide sehingga mobil terasa agak sempit karena kami gendut gendut, kecuali Mufti. Hahahahaha. Untungnya, barang-barang kami diletakkan di mobil lain. Oh iya, di Ternate tidak ada mobil elf berkapasitas besar, sehingga jika Anda datang dengan rombongan lebih dari 6 orang, kemungkinan besar Anda akan akan dipisah supaya nggak basi menggunakan 2 mobil.

Pastikan juga Anda selalu didampingi guide kemanapun pergi sehingga ada yang bisa membantu Anda menjelaskan sesuatu atau menceritakan hal-hal yang Anda tidak tahu tentang tempat yang Anda kunjungi. Juga, untuk memastikan semuanya sudah diurus oleh mereka. Jika Anda membayar trip all in, artinya Anda tidak perlu mengeluarkan dana apapun lagi kecuali keperluan pribadi.

Mengenai lokasi menginap, adalah hotel boulevard yang lokasinya sangat strategis memang; di pusat kota dan dekat ke keramaian seperti mall dan pusat oleh-oleh. Tetapi, kondisi kamar kurang memuaskan. Toiletries tidak lengkap, di kamar saya bahkan tidak ada handuk dan harus minta, sandal hanya ada sepasang dan sarapan yang jenisnya tidak banyak. Di Ternate sebetulnya ada hotel yang lebih bagus--Bella International--tetapi jika ingin menginap disana kami harus menambah biaya. Hihihihi. Akhirnya ya.. kami terima-terima aja deh nginep di situ.

Wah... kok jadi panjang. Padahal tadi rencananya cuma mau nulis sedikit dan banyakin foto, tapi tetep ajaaa jadi panjang. Hahahahaha. Maafkan. Semoga ada informasi yang membantu ya. Oh iya satu lagi, waktu ke Ternate kemarin, kami menghabiskan satu hari penuh island hoping ke Morotai. Ceritanya setelah postingan ini. Hihi ;)

Dah.. Ternate. Sampai berjumpa lagi...

Lilis, ke Ternate dahulu, terpesona kemudian.




Info Tambahan:
  • Trip Indonesia Timur dapat dikontak di nomor hp 085240057958 (Ilham)
  • Mereka menyediakan open trip dan private trip dengan jumlah wisatawan minimal 5 orang
  • Biaya trip Ternate-Morotai selama 4 hari 3 malam all in adalah Rp. 3,100,000
  • Bawalah flashdisk berkapasitas besar jika ingin langsung mengcopy foto dari drone Ilham, or less kita harus menunggu dia mengirim CD ke alamat kita. Saya kemarin menunggu selama seminggu dari trip sampai CD nya dikirim.
  • Jika bepergian di libur panjang, ada kemungkinan akan digabung dengan rombongan lain. Rombongan saya kemarin digabung dengan 2 rombongan lain. Total 17 orang.




0

Saturday, May 14, 2016


Sudah baca bagian pertama dan kedua? Kalau belum, baca di sini dan di sini ya biar afdol. Hehehehe.





Setelah berhasil berfoto bersama Aan Mansyur dan Bernard Batubara, sekitar 10 menit setelahnya venue mendadak riuh. Benar, satu-persatu pemain AADC 2 mulai datang. Nirina Zubir dan seorang rekannya yang bertindak sebagai pembawa acara mulai berteriak dan meminta kami yang ada di lokasi ikut berteriak menyebutkan nama: Ario Bayu dan Christian Sugiono!! 2 lelaki tinggi, gagah dan sangat manly ini memasuki venue diiringi teriakan para gadis. Eaaaa seneng nih ye para gadis, Mas Tian masuk venue enggak bareng Mbak Tikam :p




Setelah Ario Bayu dan Christian Sugiono, datang kemudian Dennis Adhiswara dan Sissy Priscillia disusul genk Cinta yang lian: Titi Kamal dam Adinia Wirasti. Arena jadi panas dan hingar bingar. Untuk mendapatkan foto mereka, kami harus lari-lari sana sini, berdesakan, rebutan (iya, bahkan di dalam venue pun se ramai itu). Untung saya pakai sneakers. Kalau kemarin saya jadi pakai heels atau wedges, yang ada pasti itu alas kaki bakal saya copot lalu masukin tas. Saya nyeker deh di karpet merah :p

Sambutan paling meriah dan gila tentu terjadi ketika dua bintang utama Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra datang. Saya yang sebelumnya berhasil memotret pemain lain, mendadak tidak kebagian tempat untuk memotret duo ini. Syusyahhhh banget berdesakannya. Belum lagi harus bersaing dengan jurnalis-jurnalis berkamera besar dan atau berlensa panjang. Duh... pasrah saya.





Semua pemain akan naik panggung, sedikit ngobrol dengan pembawa acara dan menyapa para penonton sebelum merka memasuki gedung bioskop. Beberapa orang yang berada di luar pagar cukup beruntung karena banyak pemain yang bersedia diajak foto selfi. Ario Bayu terutama. Duh... yang berhasil selfi pasti malemnya susah tidur tuh. Hahahaha. Setelah semua pemain datang lalu masuk gedung bioskop, sang produser dan sutradara pun naik panggung. Mereka bercerita sedikit tentang seperti apa perasaan mereka saat itu, apa harapan mereka atas film ini dan juga ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses kreatif pembuatan AADC 2.


Setelahnya, kami semua yang memiliki undangan Gala Premiere dipersilakan masuk bioskop. Sebelum film diputar, pihak Miles Films menyampaikan selamat pada kami atas keberuntungan kami menjadi yang pertama menyaksikan film AADC 2. Mereka juga memohon untuk tidak membocorkan jalan cerita karena AADC 2 baru akan tayang satu minggu setelah Gala Premiere. Sayangnya, saya tidak berada di studio yang sama dengan yang ditempati para pemain, jadi di studio saya relatif tenang. Sepanjang film diputar, saya melihat banyak orang yang terharu. Saya pun. Memang ada beberapa scene yang membuat saya sedikit emosional. Baper deh eimssss. Secara keseluruhan, penonton yang satu studio dengan saya sangat seru dan ekspresif. Beberapa kali terdengar celetukan bercandaan. Kami tertawa kencang bersama ketika scene lucu dan memberikan tepuk tangan meriah ketika film selesai.

Begitulah selama hampir 2 jam sebelum akhirnya kami meninggalkan ruang bioskop dengan kesan masing-masing. Kalau saya sih, tetep kebawa perasaan. Hahahahaha. Oleh panitia, kami semua diberi goodie bag. Ini semakin membuat saya senang karena ternyata goodie bag nya isinya banyak. Ada kaos, poster, voucher diskon dari beberapa cafe lokasi pengambilan gambar, dan suvenir dari sponsor utama AADC 2 yaitu Aqua, Loreal dan Garuda Indonesia. Dari Magnum juga ding. Bungkus nya kecil, isi nya melimpah. Hihihi.

Saya kembali ke hotel dengan perasaan riang gembira meski untuk menuju hotel juga saya harus berjuang lagi bersama Mba Isti dan Nurul. Kami tidak berhasil mendapatkan taksi setelah menunggu di depan gedung XXI Empire selama hampir 40 menit. Kami akhirnya memesan taksi melalui telepon, itu pun akhirnya kami batalkan karena taksi yang kami tunggu tidak kunjung datang.

Kami mampir makan ke restoran cepat saji sebelum ke hotel karena kami semua kelaparan. Berangkat ke venue pukul 7 malam dalam keadaan belum makan. Terakhir kali kami makan adalah pukul 2 siang. Acara red carpet dan gala premiere berlangsung hingga nyaris pukul 1 dini hari. Sudah barang tentu kami kelaparan tidak karuan. Dari situ pun perjaungan kami belum selesai. Supir taksi yang membawa kami pulang ke hotel menunjukkan perilaku yang tidak enak. Argo hanya menunjukkan angka Rp. 13,000 saat itu. Kami sudah menyiapkan uang Rp. 25,000 sebagai batas minimal pembayaran, tetapi si supir meminta bayaran Rp. 35,000 dengan alasan saat itu adalah dini hari. Saya jengkel tetapi sudah terlalu lelah dan ngantuk untuk berdebat. Jadilah Mba Isti membayar sesuai yang diminta si sopir. Ini bukan pengalaman pertama saya menemukan supir taksi yang mblangsak seperti itu di Jogja. Saya sudah mengalaminya lebih dari 5x, jadi saya sudahmulai terbiasa.

Hufttt... setelah melewati perjuangan di sana sini, akhirnya kami bisa merebahkan diri dan tidur dengan nyaman. Memang, malam itu nostalgia menjadi barang mahal. Ada harga yang harus kami bayar untuk dapat merasakan kembali atmosfer AADC yang diputar 14 tahun lalu. Mengingat segala tetek bengek yang terjadi saat itu lalu membandingkannya dengan yang ada saat ini. Nostalgia ada di pikiran dan hati semua orang, termasuk kami dan kami memilih untuk sedikit bersusah payah merasakan euforia nya bersama orang banyak.

Terlepas saat ini, 2 minggu setelah film itu diputar banyak kritik bertebaran, saya tidak kecewa karena film adalah perkara selera. Orang boleh mengatakan suka, boleh juga mengatakan sebaliknya.



Terimakasih dan sukses terus, Miles Films!


Ini beberapa foto yang berhasil saya ambil. Maaf ya kalau angle nya seadanya :')







Bonus ketemu LCB :D

0

Author

authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
Lebih Lanjut →



Tweet Me