Recent Post

Friday, April 20, 2018

Mba Rina sebagai model, foto oleh Mas Yogo

Hai handai taulan semuanya, apa kabar? Sudah punya rencana liburan kemana nih? Mei kan banyak tanggal merah tuh. Kalau belum punya, tos dulu kita! Sambil nunggu ide mau kemana, enakan cerita soal liburan yang lalu kali ya. Ini cerita lanjutan soal Rote seperti yang sudah terposting di sini sebagai pembuka. Udah baca belum? Hehehe. Sebetulnya waktu ke Rote, saya dan kawan-kawan memang nggak punya itinerary, jadi spontan aja. Ngikut saran dan rekomendasi dari Bang Runi yang antar kami kemana-mana, dan ternyata tempatnya cakep-cakep. Kalau diibaratkan manusia, udah kayak Channing Tatum deh cakepnya.

Sebagai disclaimer, postingan ini lumayan panjang karena ternyata banyak banget hal yang bisa kita lakukan di Rote. Saya nulis sendiri, kaget sendiri. Kebiasaan deh. Tanya sendiri dijawab sendiri juga sering. Coba kalau orang-orang yang punya kebiasaan tanya-tanya: mana nih pacarnya? kapan nikah? dll itu mengikuti jejak saya ya. Mereka tanya sendiri, mereka jawab sendiri. Swajawab gitu. Niscaya populasi jomblo tertohok dan tersinggung akan menurun tajam. Eh, ini ngomongin apa sih tadi? Maap. Maap. Gemini emang gampang terdistraksi. Huhuhu. Baiklah mari kita fowkes.

So, if you are non-surfer just like us, you can do this in Rote:

1.      Keliling Pulau Ndana


Walaupun selama ini kita mendengar bahwa Rote adalah wilayah paling selatan Indonesia, sebetulnya ada satu pulau yang benar-benar merupakan titik paling selatan. Pulau Ndana namanya. Ndana adalah pulau kecil tidak berpenghuni, di sana hanya ada pos TNI. Para TNI itu berjaga di pulau secara bergiliran. Satu kelompok akan berjaga selama 10 bulan.

Pulau Ndana yang penuh semak-semak
Untuk pergi ke Pulau Ndana, kita harus sewa kapal dari Desa Oeseli. Aduh warganya baik banget, ramah, dan sangat welcome kepada pendatang. Dari Oeseli, perjalanan ke Pulau Ndana tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 40 menit – 1 jam, tergantung gelombang. Sampai di Pulau Ndana, kita akan dijemput bapak-bapak atau mas-mas (soalnya masih muda dan kebanyakan dari Jawa) TNI untuk berkeliling menggunakan motor viar.

Mereka akan membawa kita ke tugu 0 Km, patung Jendral Sudirman dan mengajak kita ke beberapa danau kalau kita mau. Waktu itu saya dan teman-teman hanya ke danau merah, karena takut kesorean. Di danau merah, ada kata yg tidak boleh disebut, jadi sebelum berangkat ada Bapak TNI yang akan memberitahukan kepada kita tentang hal ini.

Tugu Titik 0 Km Selatan NKRI



Selain Pulau Ndana, sebetulnya kita juga bisa keliling Pulau Ndao dan Pulau Do’o untuk snorkeling seperti Mbak Andien Aisyah dan Mas Febrian. Kami kebetulan tidak ke sana karena keterbatasan waktu. Semoga kapan-kapan bisa balik lagi. Hihi.

Bu Nurul memakai topi khas Rote bernama Ti'i Langga berlatar pantai di Pulau Ndana
Danau Merah 
Oh iya, sewa kapal dari Oeseli ke Pulau Ndana memerlukan biaya Rp. 1.000.000 per kapal dan sudah termasuk melipir ke Telaga Nirwana sekaligus. Kapalnya lumayan kok, diisi 6 orang juga bisa, jadi nggak mahal banget share costnya. Di Pulau Ndana, Bapak TNI tidak meminta uang, tetapi sebagai tamu yang baik, tolong pikirkan bahwa kita diantar keliling menggunakan motor viar mereka jadi sebaiknya siapkan uang bensin. Belum lagi kalau kita disuguhi makan.

2.       Mengintip Kecantikan Telaga Nirwana

Setelah keliling pulau Ndana, kita bisa mampir ke Telaga Nirwana. Sebuah telaga yang terbentuk dari air laut yang “terperangkap” batu-batu karas yang menjulang tinggi. Kalau dilihat dari atas, telaga nirwana ini sekilas berbentuk hati. Airnya hijau dan jernih. Trekingnya pun tidak lama. Lebih enak kalau ke sini pakai sendal treking deh, karena batunya tajam-tajam. Kaki akika kegores-gores perih-perih gimana gitu pas ke sana karena memakai alas kaki yang salah. Huhuhu.

Tolong abaikan si Mbak yang mau foto tapi mukanya malah ketutup kain itu, sungguh ter-la-lu
karena angle adalah KOENTJI

3.       Beach Hoping


Rote tidak akan lepas dari pantai. Ada beberapa pantai yang kemarin sempat kami datangi untuk sekedar main air atau duduk-duduk manja menikmati hidup. #halah. Eh tapi serius, waktu ke Rote kemarin bulan desember itu bukan best season buat para surfer, jadi Rote tidak terlalu ramai. Enak banget buat menenangkan diri dan menghilangkan kepenatan bekerja selama berbulan-bulan, atau mencari kedamaian bagi hati yang sedang patah berantakan. Hiks hiks. Kami ke beberapa pantai seperti Pantai Tunggaoen, Pantai Batu Pintu,  Pantai Tiang Bendera dan tentu saja yang paling terkenal: Nemberala. Pantai-pantainya bersih dengan pasir warna putih. Goler-goler deh sepuasnya di sana ehehehe.

Foto sama anak-anak lokal di Nemberala
juga sapi lokal hahaha
Pantai Batu Pintu

4.       Nontonin Surfer sambil Leyeh-leyeh di Bo’a


Baiklah ini kedengarannya aneh but we did. Bang Runi membawa kami ke Bo’a, padahal sepengetahuan saya (hasil googling), Bo’a itu ya pantai untuk surfing. Terus ngapain kami dibawa ke sana? Ternyata di sana ada satu bangunan, mau dibuat resort sepertinya, di mana kita masih boleh masuk untuk duduk-duduk manja di pinggir invinity pool memandangi surfer dari kejauhan. Sayangnya saya nggak begitu paham apakah kalau nantinya resort itu sudah beroperasi, mereka masih bisa menerima tamu yang tidak menginap di situ untuk masuk. Let’s check it out later. Btw nontonin ini dalam arti harfiah lho ya, nonton doang kok beneran deh, nggak sambil ileran liat badan mereka yang bagus-bagus. *istighfar neng

Resortnya cakep, mayan buat numpang ngelenturin badan

5.       Batu Termanu


Saya sudah clamitan pengen ke sini setelah melihat tayangan di Jurnal Indonesia Kaya. Batu Termanu adalah batu alami yang menjulang tinggi di lokasi yang juga tinggi. Nah jadi komplit deh tingginya. Perlu treking memang, tapi dikit kok, nggak nanjak-nanjak banget, walaupun tetep harus bawa minum ya. Aus bok; apalagi kalo pas cuaca panas. Batu Termanu ini ada legendanya, tapi saya nggak akan cerita di sini nanti kepanjangan ngalah-ngalahin pidato kenegaraan. Tempat ini adalah favorit saya di Rote karena pemandangannya surreal banget. Ada hamparan laut biru di satu sisi, dan perbukitan hijau di sisi lain. Hijau karena desember ya, kalau bulan-bulan kering ya akan jadi coklat bukitnya. Khas daerah NTT. Ditambah pas ke sana langitnya lagi cantik luar biasa. Ah.... jatuh cinta jadinya. Pantesan pas upload foto di sini, di captionnya Mbak Andien bilang kayak baru aja landing di Mars. Saking surrealnya.

Batu Termanu di belakang sana
Menuju Batu Termanu

Pose foto ala Rose Dewitt Bukater-nya Titanic,
Mbak ini Rose juga. Nama lengkapnya: tepung beras ROSE brand wkwkwwk

6.       Menengok Mercusuar di Ba’a


Di Ba’a, kami sempat mengunjungi mercusuar. Kami pikir, masuk ke sini harus bayar, ternyata tidak. Pengelola mempersilakan kami masuk untuk melihat-lihat. Walaupun tidak sampai naik ke puncak kejayaan mercusuar, kami sudah senang karena pemandangannya bagus menghadap laut. Uwuuuwwww.


Pemandangan dari dalam kompleks mercusuar

7.       Berenang Manja di Kolam Alami Mokdale


Begitu sampai ke lokasi ini, saya dan Nurul heboh sendiri kegirangan liat kolam alami yang airnya bening seperti kaca. Kolam alami ini nggak begitu luas, tapi memanjang, jadi di sisi satunya ada anak-anak berenang, di sisi lain yang lebih ke hulu ada ibu-ibu sedang cuci baju. Airnya seger banget alamak dan sekali lagi, nggak ada tiket masuk yang harus kami bayar. Yang mencuri perhatian kami, di situ ada papan yang dipasang oleh karang taruna setempat. Isi pesannya mak jleb banget. Good job, Kakak-kakak karang taruna.



8.       Belanja Tenun (Tentu Saja)


Pergi ke Nusa Tenggara dan tidak membeli tenun itu rasanya ada yang kurang, apalagi bagi first timer. Walaupun sudah ke Flores beberapa kali dan juga Sumba, belanja tenun tetap masuk agenda kami karena tiap daerah memiliki corak khasnya sendiri. Waktu itu kami dibawa Bang Runi ke desa sentra tenun, tetapi karena sedang natal, banyak rumah yang tidak terima tamu. Setelah sedikit keliling, mungkin ada yang kasian melihat wajah memelas kami, akhirnya mempersilakan mampir dan melihat tenun-tenun di rumah beliau dan akhirnya kami beli. Alhamdulillah ya, rejeki traveler baik budi.

9.       Lain-lain


Lain-lain ini adalah hal-hal yang tidak saya dan teman-teman lakukan karena keterbatasan waktu, tapi kami mendapatkan rekomendasinya dari orang-orang yang kami temui seperti: mengunjungi tangga 300 (katanya sih dari puncaknya kita bisa melihat sedikit daratan Australia), main air di laut mati, main air di pantai mulut 1000, atau kalau yang suka banget diving, di Rote ada beberapa spot diving juga. Buat yang cuma mau goler-goler santai menghamburkan uang (tapi ndak dengan cara ala Bu Dendy yhaaa nyoh nyoh) bisa juga nyoba nginep-nginep cantik di resort yang ada di Nemberala. Dijamin akan menyedot isi dompet kita selaku #sobatqismin heuheuheu.

Bengong-bengong mikirin idup juga boleh tsayyy
Sebetulnya ada poin ke 10 yaitu: jatuh cinta lalu ingin balik lagi hahahahahaa yatapi nanti sama pembaca dibilang baper. Hadeuh... Padahal perempuan baper kan udah bisa ya Bu, sudah sejak jaman perjuangan kali eyang-eyang kita banyak yg baper sama Bung Karno. Eh maap kok jadi ngelantur. Padahal maksudnya jatuh cinta kan sama alamnya, sama kebaikan orang-orangnya, kalau saya sih terutama jatuh cinta sama anak-anak yang manis-manis dan sopan di Rote. Sangat mengesankan.


Baiklah handai taulan sekalian, itu hal-hal yang bisa dilakukan di Rote kalau kita boro-boro bisa surfing, pegang papannya aja embuh. Kalo kata Bu Nurul, bisa ngglewang huahaha. Oh iya ini penting juga, di Rote sinyal bagus pakai telkomsel, sampai ke daerah yang agak pinggir pun. Ini hal lain yang bikin takjub juga. Waktu itu sih provider lain masih agak anu, nggak tahu kalau sekarang. Jadi kalo kamu tipe orang yang nggak bisa banget nggak ada sinyal, jangan khawatir. Ini bukan iklan atau endorse lho, cuma berbagi pengalaman aja. Selamat berburu tiket ke Rote, titik terselatan Indonesia, ya!


Lilis
Berkelana dari satu titik ke titik lain








Info tambahan:
Kalau mau diantar keliling sekalian dibookingkan penginapan dll bisa hubungi Bang Paul di nomor 0821-4455-7800
0

Tuesday, April 10, 2018

Suatu hari yang cerah di Rote

Saya dan tiga teman saya yang lain: Mas Yogo, Nurul dan Mba Rina bukan peselancar. Blas nggak ada tampang peselancar juga. Maklum, kami lahir dan besar sebagai anak-anak agraris #alibi. Ibarat kata jangankan berselancar, kami sedang snorkeling, kena ombak dikit aja panik setengah mampus, gimana mau belajar selancar yakan. Bisa-bisa surfing coach-nya baru nyuruh paddle, kami malah memeluk dia erat-erat. Huahahaha maaf kok jadi clamitan. Itu sih modus ya sist.

Nah, karena kami berempat ini bukan peselancar, teman-teman kami yang mengetahui rencana kami pergi ke Rote pada libur akhir tahun lalu banyak yang terheran-heran. “Kalian ke Rote ngapain sih? Orang tuh liburan ke Komodo, ke Derawan, ke Lombok, ke Bali” dan komentar-komentar lain yang sangat variatif. Maklum, namanya juga hidup. Kami yang nabung, kami yang beli tiket, kami yang piknik, orang lain yang berkomentar. Biar seru mungkin ya. Coba kalau di dunia ini nggak ada yang saling berkomentar, alangkah bosan. Hehehe.

Pada dasarnya, kami ini bukan tipe orang yang piknik demi mengejar spot-spot fotojenik. Kami bukan orang yang terkena tekanan visual sehingga harus banget foto di tempat yang sedang hits dan kekinian. Ketika kami bepergian, kami selalu memiliki point of interest terhadap suatu tempat. Mengenai Rote, saya dan Mas Yogo punya beberapa hal mengapa kami sangat ingin ke sana walaupun kami bukan peselancar. Nurul dan Mba Rina untungnya ngikut dan seneng-seneng aja. Kita tahu kan selama ini Rote terkenal sebagai destinasi surfing impian, gimana enggak, Rote memiliki jalur ombak terpanjang di Indonesia yang menggulung ke kiri dengan putaran yang spektakuler (ini hasil saya googling hehehe). Rote adalah destinasi surfing kelas dunia, jadi yang berbondong-bondong datang ya biasanya peselancar. Surfer yang badannya cuco-cuco ya boookkk. *teteup *sing eling neng, nyebut neng*

Salah satu pantai di Rote
Nah karena saya bukan peselancar, saya punya alasan sendiri kenapa ingin ke Rote yang akhirnya terwujud Desember lalu. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kenangan adalah komoditas. Kenangan bisa menjadi hal yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu di masa depan. Waktu SD dulu, guru geografi saya bisa menjelaskan fenomena alam dengan sangat menarik, tentang Danau Toba, tentang batas-batas terluar NKRI yang terpatri di ingatan saya hingga kini. Ditambah lagi, jaman kecil pas masih suka nonton stasiun TV RCTI, ada video seorang nenek mengacungkan jempol dari atas jukung di pasar apung di Kalimantan Selatan, seorang penyelam yang juga mengacungkan jempol dari kedalaman sekian meter di TN Laut Bunaken, dan seorang laki-laki sedang meniup alat musik Sasando dari Rote. Kenangan-kenangan itu membekas di pikiran saya, sehingga ketika dewasa, sudah bekerja dan bisa menabung untuk kebutuhan tersier, saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang saya kenang dengan baik itu.

Bukit-bukit teletubbies nggak cuma ada di Bromo, di Rote juga ada nih ;)
Maka jadilah libur akhir tahun lalu kami berempat terbang ke Kupang, transit selama 5 jam, lalu terbang lagi ke Rote. Senang bahwa sekarang baik menuju Rote maupun Alor sudah ada penerbangan setiap hari sehigga mempermudah perjalanan kami. Tentang orang-orang yang selalu saja bertanya: mau ngapain di Rote? Ada apa di sana? Kan kalian nggak surfing?, well, bagi kami perjalanan tidak harus selalu ada apa dan lihat apa.

Kami senang bertemu orang-orang baru (lagi) di Rote. Merasakan nilai-nilai hidup baru dari orang yang kami temui. Mendengar dan melihat kebiasaan-kebiasaan baru. Ketemu para tentara yg tangguh, berbulan-bulan hidup di pulau terluar meninggalkan keluarga juga mendengar legenda-legenda. Adapun pemandangan laut dan pantai yg super cantik hanya bonus belaka.

Jadi, soal kami akhirnya kemana saja selama di Rote, nanti akan saya bahas di postingan khusus ya. Minggu depan deh habis postingan ini naik. Anggap saja ini hanya pembuka. Lalu ada yang jawab: pembuka aja sepanjang ini deh sis, kayak pembukaan UUD 45 ya. Huahaha.

Spot favorit saya di Rote: Batu Termanu
Ps: semua foto yang ada di postingan ini tanpa editan sama sekali, karena saya juga nggak bisa ngedit sih. Yes, ketika kami datang, langit Rote sedang secantik itu. Cerah. Seperti wajah perempuan yang sedang jatuh cinta. Eeeaaaa.








Lilis,
Si peselancar kata-kata

2

Tuesday, December 19, 2017

Hujan deras di Waerebo, Desember 2016

Sebagai orang yang di tempat kerjanya tidak ada peraturan cuti, saya, layaknya banyak orang lain, bisa menikmati liburan di akhir pekan atau akhir pekan yang agak panjang seperti Desember 2014 hingga Desember 2017 ini. Setiap Desember selama beberapa tahun itu, saya mengganti destinasi, walau kadang masih satu provinsi. Misalnya pada Desember 2014 saya ke Flores khusus untuk living on board, lalu di Desember 2016 saya ke Flores lagi untuk overland.


Pantai pink yang cerah, Desember 2014


Pada kedatangan saya yang pertama di 2014, saat itu terlalu banyak yang memberi masukan untuk menunda perjalanan plesiran karena musim hujan. Nanti snorkeling nggak seru dong, nanti nggak bisa dapet foto langit biru dong, nanti kalau hujan malah cuma stay di hotel dong dan lain-lain. Awalnya agak terpengaruh, sempat gamang, betul juga ya kata orang-orang ini. Apalagi, you know, I ‘am a gemini, gampang dipengaruhi dan agak plin-plan heuheuheu, tetapi akhirnya saya berangkat juga dan perjalanan itu sukses membuat saya pulang dengan berkoper-koper cerita dan juga rasa bahagia. Maka, desember tahun-tahun selanjutnya saya sudah menebalkan telinga. Haha!

Cuaca mendung di Desa Adat Bena, Desember 2016

Waktu itu saya nekat berangkat karena berfikir bahwa: hey, travel is about yourself. Kalau kita sudah sekian lama memimpikan untuk bisa pergi ke destinasi tertentu dan kesempatan itu datang, kenapa harus ragu? Bahkan untuk rencana trip yang sudah disusun secara matang pun kadang masih bisa meleset; apalagi ini hanya masalah perkiraan cuaca. Buat saya, pergi traveling artinya perjuangan menabung, menyisihkan uang ngopi2 cantik, mengurangi kebiasaan belanja baju sepatu tas dan make up, bagi-bagi anggaran dengan  rencana trip lain, dan macam-macam kebutuhan lainnya; dan atas perjuangan itu, saya merasa pantas memberi diri saya reward. Oleh sebab saya tidak bisa cuti, saya akan pakai kesempatan long wekeend, walaupun di bulan Desember yang bercurah hujan tinggi.

Walau mendung, tetap mendayung. Lhok Baintan, Desember 2015
Cuaca sekarang sulit kita prediksi. Menurut saya, yang penting kita siap dengan segala kondisi. Bawa jas hujan, jaket, alas kaki yang sesuai medan, dan lain-lain tergantung kebutuhan. Pertimbangan tentu perlu, tapi untuk menjadi terlalu khawatir saya rasa jangan.


Jadi, akhir dari tulisan ini adalah; di 2014 Flores menghadiahi saya sinar matahari berlimpah ruah, 4 hari berturut-turut. Air laut yang bersahabat sehingga saya bisa living on board dengan tenang dan bisa snorkeling di pantai pink dengan gembira.


 Sunset yg hangat di Labuan Bajo, Desember 2014

Dalam perjalanan menuju Pulau Rinca, Desember 2014


Panas di Pulau Komodo, Desember 2014

Pada Desember 2015 saya ke Sumatra Barat. Hanya dua kali saya “bertemu” hujan yaitu ketika mengunjungi kelok 9 di hari kedua dan ketika perjalanan ke bandara di hari keempat. Selebihnya, perjalanan ke Pulau Pagang dan Pasumpahan, Jam Gadang Bukittinggi, mencoba nasi kapau khas Uni Lis yg tersohor itu, Puncak Lawang, Danau Maninjau, Istana Pagaruyung, Lembah Echo Payakumbuh, sukses ditemani sinar matahari yang hangat.


Mendung di Lembah Harau, Desember 2015

Hujan di Kelok 9, Desember 2015
Puncak Pulau Paumpahan, Desember 2015
Lembah Harau yang cerah , Desember 2015

Di Desember 2016 saya ke Flores lagi untuk overland dan langit menurunkan hujan luar biasa deras dalam perjalanan saya dan teman-teman treking ke Desa Waerebo. Jalan menuju ke sana, tidak hujan pun sudah licin, bayangkan dengan hujan yang sangat deras, jalannya jadi... ya gitu deh heheheh. Apakah saya sedih? Tidak. Justru perjalanan jadi makin seru. Cuma kalau yang niat pengen motret milky way memang jadinya gagal. Itu persoalan lain ya. 

Menuju Waerebo dengan cuaca mendung, Desember 2016
                   

Menunggu hujan reda di Waerebo, Desember 2016

Foto-foto setelah hujan reda di Werebo, Desember 2016

Mendung di Kelimutu, Desember 2016

Mendung di Kelimutu, Desember 2016

Desember 2016 saya juga ke Kandangan, Kalimantan Selatan untuk mencoba rafting bambu di Sungai Amandit. Hujan sudah menyambut kami tidak lama setelah kami keluar dari bandara dan baru reda sekitar 5 jam kemudian. Hasilnya, esok harinya ketika kami rafting, debit air naik dan rafting menjadi sangat seru. Siangnya ketika menuju destinasi lain, matahari sudah nongol lagi.

Sungai Amandit dan yogini amatir, Desember 2016
Bukit Langara Kalsel, Desember 2016

Pasar Apung Kalsel, Desember 2016

Dengan pengalaman 3 tahun berturut-turut itu, sekarang saya sudah tidak ragu untuk bepergian di Bulan Desember. Masih untung ada tanggal merah panjang, kalau tidak, kan lebih sedih lagi karena cuti kadang-kadang hanya ilusi. Awww! Desember tahun ini saya akan ke titik paling selatan Indonesia: Rote. Can’t wait t share the story here also. Kalian pun, selamat berlibur ya. Semoga semakin menambah semangat ketika nanti kembali bekerja.



Lilis,

Selalu berusaha berdamai dengan hujan, dan kenangan
0

Friday, August 18, 2017


Sebagai orang yang tinggal di negara tropis bermandi sinar matahari, rasa-rasanya summer sudah jadi teman karib, termasuk bagi saya. Summer adalah waktu di mana saya bisa bebas bepergian tanpa khawatir akan turun hujan. Summer yang hangat membuat saya ingin selalu melakukan sebuah perjalanan.

Biasanya summer identik dengan pantai dan laut, tapi bagi saya perjalanan dan petualangan seharusnya tidak memiliki sekat. Apakah itu laut, apakah itu gunung. Di laut, summer artinya cuaca cerah, langit biru bersih akan berpadu dengan warna biru atau toska air laut. Kalau kita beruntung, kadang-kadang pemandangan tersebut bisa dipercantik dengan hamparan pasir putih, hitam, bahkan merah muda. Di gunung, summer akan jadi saat paling menyenangkan karena saat malam langit akan nampak jernih. Kadang-kadang kita akan dapat hadiah tidak terduga dari semesta berupa pemandangan milky way yang pasti akan kita kenang sepanjang hayat kita. Kita ceritakan ke anak-anak kita.

Summer di gunung
     
Summer di laut
           
Dalam menikmati summer, saya adalah orang yang fleksibel. Saya bisa sangat bahagia di laut, juga bisa sangat gembira di gunung. Untuk menentukan akan pergi ke laut atau gunung, biasanya saya menyesuaikan kemampuan fisik dan finansial. Tahun ini, saya ingin sekali menikmati summer dengan cara sederhana: goler-goler memandangi bintang di area terbuka atau yang lagi ngetop di sosmed disebut star gazing. Star in the sky, star in your eyes. Eeaaaaa 🤣🤣

Nah, karena saya adalah tipe orang yang lebih menyukai liburan yang terencana, sebelum memutuskan akan ke mana dan melakukan apa saja di sebuah destinasi, hal wajib yang saya lakukan adalah blog walking. Dalam pencarian saya tentang pantai-pantai eksotis di Indonesia yang bisa saya jadikan tempat star gazing, saya menemukan sebuah artikel dari situs RedDoorz tentang 8 pantai terindah di Indonesia.

Membaca satu artikel di sana, saya malah "hanyut" untuk membuka artikel-artikel lain yang tidak kalah informatif seperti rekomendasi akomodasi serta tips dan trik yang pastinya akan angat berguna untuk saya dalam menyiapkan summer holiday nanti, termasuk tips menghadapi kemungkinan terburuk ketika traveling yaitu ketinggalan pesawat. Hahahaha. Blog RedDoorz ternyata juga memiliki menu rekomendasi tempat wisata, hingga lokasi wisata kuliner favorit kita semua ahahahah. *elus-elus perut*. Informasi seputar bepergian is just one click away.

Blog RedDoorz
Berbekal informasi dari RedDoorz tadi, setidaknya ada 2 pantai dan sekaligus 1 resort yang sangat ingin saya datangi untuk star gazing di summer holiday kali ini:


Pantai dan Resort Nihiwatu, Sumba

Sumber Foto: Blog RedDoorz
Resort Nihiwatu Sumba beberapa kali memenangkan penghargaan bergengsi sebagai resort terbaik dunia, sedangkan Pantai Nihiwatu sendiri masuk jajaran top 100 world's best beaches versi CNN Travel. Saya sering membaca ulasannya. Membayangkan tanah dan pantai Sumba yang eksotis, lautnya yang jernih dan pasir yang putih lembut, memimpikan berlibur menikmati summer di Nihiwatu adalah kenikmatan tersendiri. Jika suatu saat nanti saya bisa ke Nihiwatu, selain star gazing dan memandangi sunset, saya juga akan dengan gembira bergabung dengan warga lokal untuk menangkap gurita. Aduh serunya!


Pantai Sawarna, Banten


Sumber foto: Blog RedDoorz
Saya saat ini tinggal di Jawa Tengah dan bekerja office hour. Kadang-kadang, rencana liburan terkendala waktu libur atau cuti yang terbatas. Oleh sebab itu saya harus memikirkan lokasi-lokasi yang menawan tetapi juga mudah dijangkau dan relatif dekat dari kota tempat tinggal saya sehingga waktu libur yang pendek pun tetap bisa menikmati summer holiday dengan maksimal. RedDoorz menyuguhkan info tentang Pantai Sawarna di Banten yang ternyata tidak kalah cantik dengan pantai-pantai di Indonesia Timur. Warna air lautnya biru menggoda dan menurut informasi, Sawarna masih aman dari polusi. Yang lebih enak lagi, di Sawarna banyak pilihan akomodasi, saya bisa sesuaikan dengan isi kantong saya supaya tidak langsung bolong hihihi.


Saya selalu ingin menikmati summer holiday tanpa sekat, baik itu waktu, teman seperjalanan maupun tipe perjalanannya. Lama atau sebentar, solo traveling atau ikut trip gabungan, backpacking atau traveling nyaman, semua bisa dikondisikan, disesuaikan dengan mood dan rencana yang sudah kita susun. Dengan demikian, summer holiday akan membuat kita bahagia, ke mana pun tujuan wisatanya. Terimakasih atas informasi dan rekomendasinya, RedDoorz!









-Lilis, do blog walking for more fascinating holiday





















0

Thursday, May 4, 2017


Di jaman ketika bepergian sudah menjadi gaya hidup seperti sekarang, mudah sekali bagi kita yang ingin bepergian untuk memilih. Mau pergi dengan moda transportasi apa, backpacking atau luxury, private trip atau open trip dan sekian macam pilihan lain tergantung anggaran dan kenyamanan.

Seiring dengan hal itu, makin banyak juga orang-orang yang punya pengaruh di dunia traveling membuka bisnis di bidang pariwisata. Beberapa kali saya berinteraksi dengan selebgram dan atau orang-orang yang terjun ke bisnis wisata. Ada sebagian dari mereka yang saya rasa belum memahami esensi bepergian untuk kaum pekerja office hour seperti saya.

Misalnya ketika saya pergi ke Flores hanya 4 hari, banyak yang langsung berkomentar: 4 hari itu kurang, harusnya jangan 4 hari, lain kali kalau kesini lagi jangan 4 hari ya, atau komentar sejenis. Mereka mungkin nggak kepikiran, ucapan mereka mengecilkan hati kami, eh, saya ding. Saya. Siapa tahu orang lain cuek aja “dingresuloni” begitu. Bagi saya, yang di tempat kerja bahkan nggak ada kebijakan cuti (yes, it’s true, saya cuma bisa mengajukan ijin), 4 hari itu sudah sangat bagus. Ada hal-hal yang harus saya ceritakan baik tersirat ataupun tersurat pada pimpinan divisi sebelum memberanikan diri mengajukan ijin. Harus pandai membaca situasi apakah pekerjaan sedang menumpuk atau sebaliknya, dan tanggapan dari seorang trip planner yang mengatakan: “harusnya jangan 4 hari” biasanya membuat saya kecil hati. Like I have other choices, in fact I don’t.

Menurut saya, daripada bicara angan-angan, lebih baik fokus ke apa yang ada. Bagaimana 4 hari itu bisa jadi menyenangkan, bisa jadi sarana memulihkan energi, membangun kenangan yang akan lekat terus di hati sanubari, jadi nggak menutup kemungkinan si klien akan kembali lagi karena bagi saya pribadi, pergi ke suatu tempat bukan tentang seberapa banyak sudut yang akan saya datangi, tapi bagaimana saya menikmati perjalanan itu. Klise ya? Tapi itu benar adanya. Daripada grusa grusu demi sebuah: biar dikunjungi semua, saya lebih memilih santai menikmati sebisanya.

“Sayang kan sudah sampai Flores tapi nggak nginep di sini, nggak melakukan itu, nggak nyobain ini” saya tahu. Saya paham. Tapi saya nggak punya banyak waktu. Lain kali kalau ada kesempatan saya pasti akan kembali, tanpa perlu mereka beri justifikasi.

Sebaiknya seorang trip planner banyak berkomunikasi dengan klien, berapa lama waktu yang dimiliki, apa goalnya dari trip tersebut. Kalau pun waktu yang dimiliki tidak ideal menurut perhitungan trip planner, katakan saja: kalau mau melihat A, atau ke tempat B, lain waktu bisa balik lagi, karena kalau hanya sekian hari tidak memungkinkan. Saya rasa itu tidak akan mengecilkan hati orang-orang seperti saya.

Tulisan ini sangat subjektif. Betul-betul hanya dari sudut pandang saya. Ini murni pengalaman saya, murni tentang apa yang saya rasakan ketika sudah susah payah mengajukan ijin dan lalu mendapat tanggapan: harusnya jangan begitu, blablabla, it’s like I got punch on my face. Bisa jadi orang lain tidak merasakannya, tapi saya rasa membagikan apa yang kita dapat dari sebuah perjalanan, walaupun itu hanya bias-bias perasaan tetap akan ada manfaatnya. Setidaknya untuk saya sendiri. Bercerita selalu akan membuat saya lega.



Ps: ngresulo dalam bahasa jawa kurang lebih artinya keluhan






Lilis, a story teller


2

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me