Wednesday, August 27, 2014

Mengunjungi Suku Baduy, Merasakan Alam Begitu Lestari

Indonesia adalah negara yang di daerah-daerahnya kearifan lokal masih kental terasa, masih dipegang teguh masyarakatnya. Diantara sekian banyak suku yang mendiami negeri yang indah ini, adalah suku Baduy, salah satu suku yang tidak membiarkan diri mereka tersentuh teknologi dan hingar bingar industrialisasi.


Bersiap memasuki desa Baduy Dalam. No more pics, pleaseee
Sekilas mengenai suku Baduy; mereka tinggal di beberapa desa di pedalaman Banten tanpa listrik, apalagi internet. Hehehe. Ini bukan karena program pemerintah belum sampai disana, melainkan karena itulah salah satu kearifan lokal mereka. Untuk penerangan, mereka menggunakan obor dan lampu minyak. Sehari-hari, mereka makan dengan bahan makanan yang mereka tanam dan rawat sendiri secara swasembada.

Jembatan bambu pintu gerbang menuju Baduy Dalam

Satu hal yang sangat mengagumkan menurut saya, mereka konsisten tidak menggunakan segala jenis barang yang mengandung unsur kimia karena dapat merusak alam. Jadi no sabun, no deterjen, no shampoo but it’s all ok karena mereka melakukan kegiatan MCK di sungai yang super jernih dan airnya segar luar biasa. Ini juga berlaku untuk para pengunjung lho. Coba, hari gini, kapan lagi bisa merasakan mandi di kali yang bersih, ya kan?

Pemandangan selama treking ke Baduy Dalam


Mereka hidup bermasyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut pu’un; yang rumahnya tidak boleh didekati oleh pengunjung. Ketika saya dan teman-teman berkunjung kesana, kami banyak berdialog dengan mereka, menanyakan bagaimana upacara-upacara seperti pernikahan dan kematian dilangsungkan dan mereka akan dengan senang hati bercerita dengan bahasa sunda, membuat saya jadi kelimpungan mencari penerjemah. Hahahaha.



Membawakan backpack kami
Masyarakat suku baduy seperti yang kita tahu tidak menggunakan kendaraan sehingga kemanapun mereka pergi, mereka akan berjalan tanpa alas kaki. Pun sampai ke Jakarta untuk sekadar jalan-jalan. Memakan waktu 3 hari. Bengong saya mendengar ceritanya. Mereka juga tidak menggunakan sembarang pakaian melainkan baju polos berwarna putih atau hitam.

Punten Bapak, kita foto yuk. ;)

Adik, senyumnya mana? :D
Itu beberapa hal yang khas dari suku Baduy. Untuk lebih jelas, teman-teman bisa berkunjung kesana selain bulan januari sampai maret karena mereka tidak menerima tamu pada 3 bulan itu. Jika kepenatan berada di kota besar dan tumpukan rutinitas sudah menyumbat otak kita, adakah hal lain yang lebih menyenangkan selain menghilang sejenak dari keramaian? Merasakan udara begitu sejuk dan kembali ke alam? Pantai atau gunung sama sekali bukan pilihan yang buruk, tapi mengunjungi salah satu suku yang juga kekayaan nusantara tentu patut dicoba.

Diantara lumbung-lumbung padi

Rumah-rumah mereka
Girl power
Selamat membaur dengan masyarakat suku Baduy. Selamat menikmati saat-saat santai tanpa telepon genggam yang terus berbunyi.



Lilis, ethnic getaway is her new style of travelling

Bersama teman-teman peserta open trip



*Ps: Semua foto diambil di desa Baduy Luar, dimana kegiatan potret memotret diperbolehkan. 

Info Tambahan:
  • Banyak peraturan di Baduy yang harus kita ta’ati sperti tidak boleh memotret dan menyalakan hp di Baduy Dalam, tidak berisik, dll. Mereka biasanya akan memberitahu kita mengenai ini.
  • Terdapat banyak trip organizer yang menyediakan paket bermalam di Baduy, salah satunya Tukang Jalan. CP Dwi  081315890191/08561281734
  • Jika ingin bersolo travelling, lebih baik tetap membawa pemandu yang paham seputar seluk beluk Baduy.
  • Dari Jakarta perjalanan menuju desa suku Baduy dapat ditempuh dengan kereta ke Rangkas Bitung lalu dilanjut dengan angkot sampai desa cijahe.
  • Selanjutnya, trekking menuju Baduy. Bisa ambil trek ringan 45 menit ataupun yang berat sekitar 4 jam sesuai kemampuan.

No comments:

Post a Comment

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me