Wednesday, March 11, 2015

Travelmate: Benci Benci Rindu #TravelerKonslet



Menulis postingan ini sambil membayangkan mereka, saya bingung harus memulai darimana. Awalnya, saya dan Ndut untuk pertama kalinya ikut open trip dalam rangka ngerayain ultah dia sekaligus kami pengen ketemu Marischka Prudence, travel blogger idola kami bersama. Dari sana kami bertemu banyak orang asik yang kemudian beberapa diantaranya menjadi travelmates kami dalam trip-trip selanjutnya.

Singkat kata, trip pertama kami ke Ijen diawali dengan si A ngajak temen, si B ngajak temen, si C ngajak sebut saja Mawar bla bla bla dan akhirnya tergabunglah kami ber 15, waktu itu kami belum memproklamirkan nama (yaelah istilahnya memploklamirkan bro! :p) . Meski begitu, emang dasar semua orang di grup ini suka jalan-jalan, everything runs smoothly. Pernah denger kan kalo traveler itu rata-rata punya sifat toleran luar biasa? Kayaknya sih itu yang menyebabkan kami tetap ber haha hihi macam kuntilanak kemanapun kami pergi.

Dari Ijen yang punya banyak kenangan manis dan pahit buat beberapa orang (termasuk saya dan mba Shinta, ups) kami melanjutkan trip ke DIY desember lalu. Dari sana, saya rasa kekompakan kami makin teruji dan makin melesat ngalah-ngalahin inflasi. Halah! Maret ini kami akan ke Pacitan dan pasti akan dilanjut ke kota-kota lain semacam road show gitu. Hahahaha

Itu tadi prolog ya. Oke. Prolog aja 3 paragraf. Bye!

                           




Jangan dikira kami ber 15 ini kayak member JKT 48 yang kalo sekilas dilihat sama semua. I want yooouuuuuuu… I miss yooouuuuu………. I need yoouuuuuuuu…… Aitakata! Aitakata! No, of course we're not! Kami punya banyak perbedaan dari segi UMUR (huruf kapital semua artinya penekanan), profesi, status, prinsip hidup, pendidikan, penghasilan, cara menghabiskan uang, tipe traveling kegemaran dan cara melupakan kenangan pada mantan (loh? kok sampe sini segala?). Meski begitu, perbedaan tidak menjadi halangan untuk memulai sebuah petualangan tak terlupakan bersama-sama bukan? ;)

Bagi saya pribadi, mencari travelmate bukan perkara gampang. Bekerja di sebuah instansi yang dikelilingi orang-orang paruh baya membuat saya kesulitan mengajak teman kantor jalan-jalan. Teman kuliah sudah banyak yang berada di perantauan, mencari uang untuk membeli batu akik, mungkin. Sahabat-sahabat yang sehari-hari berlalu lalang tidak semuanya punya nyali meninggalkan zona nyaman. Maka, bertemu teman-teman saya 14 orang ini saya merasa seperti “ketiban pulung” kalau kata orang jawa. Terjemahan ada pada temen yang orang jawa. Tanya aja. Jangan males. :p

Later on, kami menamakan diri #TravelerKonslet, nama yang diilhami oleh kebiasaan kami membicarakan, mempergunjingkan dan menertawakan hal-hal absurd dan saru! Termasuk jika yang absurd itu adalah diri kami sendiri. Benar-benar konslet. Hahahaha. Meskipun konslet, mereka adalah solusi. Bertemu mereka, urusan traveling saya terasa mudah; berbanding terbalik dengan urusan dompet. Duh…. dikit-dikit diajak kesana, diajak kesini, diajak liat gerhana matahari dari kapal pesiar tahun 2016 nanti, padahal tahun 2015 aja baru mulai. Sakit rasanya hati ini. :( *pusing pala permaisuri*



Hal menyenangkan lain dari memiliki mereka sebagai travelmate adalah mereka ini semuanya mauan! Jungkir balik turun goa pakai tali ayok!  Naik ke kawah berasap belerang pekat ayok! Wisata kuliner ekstrim ayok! Bertaruh nyawa pada gondola manual di Pantai Timang ayok! Rafting ayok! Guling-guling ayok! Kayang diatas bukit ayok! *kemudian encok pegel linu* :D Pokoknya ibarat orang jualan, mereka ini palugada; apa lu mau gua ada!


Khusus pengalaman jungkir balik di Goa Jomblang, saya ingat betul, tempat ini sudah membayang-bayangi pikiran saya sejak 3 tahun lalu. Waktu itu, susah payah saya membujuki teman-teman. Tidak kenal putus asa saya menceritakan keseruan menuruni goa sedalam 60 meter itu. Pantang menyerah saya meyakinkan bahwa traveling kesana akan jadi pengalaman super mengesankan. Apa daya, usaha saya yang keras itu hanya diganjar senyuman dan gelengan. Ada yang beralasan takut, ada yang bilang mahal, ada yang bilang nggak boleh sama pacar (dasar nggak berperi kejombloan! Tega banget ngomong gitu sama kaum fakir asmara!) Huhuhuhuhu *nangis di bawah jembatan banjir kanal* Lha kok ketika ketemu #TravelerKonslet urusan goa jomblang jadi sipirili, kecil, secuil. Satu orang ngajak ke Goa Jomblang yang lain langsung ayok. Nggak pake protes, nggak pake nawar, nggak pake basa basi busuk. Oh saya jadi terharu…. Akhirnya saya bisa beramai-ramai kesana tanpa harus berusaha keras presentasi sana sini lagi kayak orang MLM.





Akhir kata, saya cuma mau bilang saya benci sama meraka semua; Ndut, Mba Isti, Kak Yulia, Mba Shinta, Mas Yogo, Mas Teguh, Ashif, Peran, Rudi, Yogi, Uda Ferdi, Mas Boim, Om Roby, Om JP. Benci kalau lama nggak ketemu. Benci kalau lama nggak ada agenda yang seru-seru. Benci-benci rindu. Eeeaaaa

Semoga kita makin kompak, makin solid dan makin konslet ya guys. Layaknya pasangan, rasa-rasanya kita semua  sudah saling melengkapi satu sama lain. Sudah ketemu belahan da……. jiwa! Iya, belahan jiwa. Sudah kayak tumbu ketemu tutup. Klop! See you soon on top! (top of the mountain, maybe?:D)


Ps: nggak tahu kenapa di foto ini aku kok misah kayak orang galau -_-


Regard,

Your Ummi Ida :p

8 comments:

  1. Ya ampun umi idaaaaa, (nutup bedaknya yang gaya ya, klek gitu)
    Bahagia deh baca postinganmu
    emang bener banget, susah pol buat nyari travel mate yang klop kek kalian, semoga ke depannya bisa selalu traveling bareng yak, biar kenangan seru dan saru nya nambah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ummi Ida sudah membuatmu bahagia mba?

      *yes abis ini mau minta traktir se antero Malang*

      Delete
  2. Replies
    1. Terharunya nggak pake nangis di bawah dispenser kayak Nurul kan om? :D

      Delete
  3. 👍👍👍👍👍 good job lilis...😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Uda, kalianlah sumber inspirasiku! *cium satu-satu*

      Delete
  4. Akkk... Udah kangen banget ama our Umi Ida :-* Ga sabar pengen ketemuuuu ^^
    Selalu sukak ama tulisannya lilis. So touching yet entertaining ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang Pacitan giliran mba Isti yang nulis. Kita tunggu!! hihihi :*

      Delete

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me