Wednesday, April 22, 2015

Situs Tsunami Aceh: Pengingat Sekaligus Penyembuh Luka


Tsunami yang melanda Aceh 10 tahun silam adalah bencana alam besar yang mengundang perhatian dunia. Saya ingat betul, waktu itu kami anak-anak sekolah diminta menyumbangkan baju layak pakai dan buku-buku untuk teman-teman di Aceh. Tidak terasa, 10 tahun sudah. Time flies.

Guna meningat dan mengenang apa-apa yang pernah terjadi dulu, pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam mendirikan museum tsunami dan juga beberapa situs tsunami lain. Bangunan megah yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini memiliki 3 lantai. Semua diisi dengan media edukasi mengenai tsunami. Foto-foto terpajang lengkap, dari kondisi Aceh sebelum bencana, ketika terjadi bencana, dan pasca bencana. Data-data ditampilkan mengenai hal-hal yang sebelum bencana kondisinya buruk, justru membaik setelah adanya bencana.

Miniatur Gedung Museum Tsunami
Tidak cukup hanya foto-foto, museum tsunami juga memiliki ruang teater yang memutar ulang bencana tsunami, juga video pengakuan para survivor yang membuat banyak orang menangis terharu. Diorama dengan ukuran cukup besar juga dipajang disana. Ada alat-alat peraga yang dapat menampilkan sebab terjadinya tsunami serta apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Ada ruangan khusus yang digunakan sebagai simulator gempa. Pengunjung boleh masuk kesana jika ingin merasakan gempa dengan kekuatan yang sama dengan gempa yang terjadi di Aceh 24 Desember 2004.





Pemerintah NAD tidak hanya membangun museum, tetapi juga  meresmikan beberapa tempat menjadi situs tsunami seperti kapal diatas rumah yang sangat fenomenal. Ingat kan? Menurut survivor di sekitar lokasi, kapal ini berhasil menyelamatkan 59 orang. Kapal tanpa nahkoda itu berkeliling, seperti menjemput warga yang sudah putus asa di atap rumah mereka karena air kian meninggi sebelum akhirnya “nangkring” di atap salah satu rumah. Sungguh kuasa Tuhan tiada kenal hambatan. Setelah bencana tsunami, pemerintah membeli rumah tersebut lalu menjadikannya situs resmi.


Ada pula PLTD Apung. PLTD ini adalah kapal besar pembangkit listrik yang memang disediakan untuk menjaga pasokan listrik di NAD yang saat itu tidak lancar karena konflik. Kapal dengan berat 26.000 Ton ini harus berada di laut dengan kedalaman minimal 10 meter untuk bisa bergerak. Nah, kapal besar ini, terseret ke daratan sejauh 7 kilometer dari bibir pantai. Bisa bayangkan betapa dahsyat ombak saat itu?

Diorama PLTD Apung
Situs PLTD Apung

Satu lagi bangunan iconic dari kota Aceh yang juga sekaligus survivor tsunami; Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini sangat terkenal karena masih berdiri kokoh diantara reruntuhan bangunan sekitar. Jika kita berkunjung ke Aceh, kebetulan beragama Islam, shalat di masjid ini akan jadi satu pengalaman tidak terlupakan. Yang harus diingat, kawasan masjid raya hanya boleh dimasuki oleh yang berpakaian sopan. Wanita wajib mengenakan rok panjang, baju lengan panjang dan kerudung, sedangkan pria diperkenankan memakai celana longgar non jeans.


Masjid Raya Baiturrahman
Beberapa situs tsunami ini, saya yakin, tujuan pembangunannya bukan untuk menguak luka lama, bukan untuk kembali bermuram durja, tapi sebagai pengingat bahwa musibah besar pernah melanda. Bahwa sebagai penduduk Indonesia yang kabarnya rawan bencana, kita semua harus senantiasa waspada. Agar warga menjadi lebih sadar bencana dan memiliki pengetahuan mengenai penanggulangannya.

Memang benar, selalu ada pelangi setelah badai. Selalu ada hikmah dibalik bencana. Disebutkan Aceh mengalami perbaikan dari sisi infrastuktur kota, sistem sanitasi bahkan pertumbuhan ekonomi karena daerah –daerah yang dulunya terisolasi karena konflik, perlahan-lahan mulai bangkit kembali seiring lenyapnya konflik terkait gerakan separatisme. Anak-anak yang kehilangan orangtuanya dikabarkan banyak diadopsi baik oleh keluarga bahkan tetangga. Aceh membaik, Aceh bangkit dan Aceh kini juga menjadi destinasi favorit penyelam karena memiliki Taman Laut Rubiah.



Lilis, witnessing a rainbow after hurricane


Info Tambahan:
  • Semua situs tsunami dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya
  • Di situs kapal diatas rumah, ada beberapa nenek survivor yang dengan senang hati menyambut kita, bahkan menceritakan kembali apa yg mereka saksikan. Tapi ingat, bertanyalah dengan sopan, ingat batasan-batasan. Kita tidak tahu luka seperti apa yg mereka masih simpan di dalam hati.
  • Penerbangan Langsung Jakarta-Banda Aceh hanya ada siang hari sekitar pukul 11.00 WIB
  • Jika ingin tiba di Aceh lebih dini, kita bisa terlebih dahulu terbang ke Medan, lalu dilanjut ke Banda Aceh.
  • Tiket PP Jakarta-Medan-Sabang sekitar Rp. 3,000,000,- 

2 comments:

  1. Asyiknya mba jalan-jalan ke Aceh, gimana suasanyanya mba setelah melihat Banda Aceh dan Sabang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah seneng bgt mba udah bisa sampai Aceh dan keliling-keliling nyobain ayam tangkap dll. Sabang apalagi. Terharu bgt pas liat Tugu 0 Km, nggak nyangka lagi ada di titik ujung Indonesia. Anyway salam kenal ya mba, terimakasih sudah mampir. Kalau ada rekomendasi seputar Aceh, boleh dong saya diinfoin siapa tahu suatu saat bisa balik ke Aceh lagi :D

      Delete

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me