Monday, May 2, 2016

Dari Momen Gala Premiere AADC 2: Perjuangan Untuk Sebuah Nostalgia (2)



Sebelumnya, sudah baca part 1 kan? Kalau belum, ada di sini


Tiba di hari H; Sabtu, 23 April 2016, saya yang sudah mantap untuk hanya mengenakan rok batik, blus putih sederhana dan sepatu kets serta make up ala kadarnya, segera bertolak ke XXI Empire di daerah Gondokusuman, Yogyakarta. Jangan bayangkan saya melenggang dengan santai dan damai, yang ada saya kemrungsung karena dari hotel tempat saya menginap ke lokasi Gala Premiere macetnya ampun-ampunan. Mungkin karena AADC, lebih masuk akal lagi sih karena itu malam minggu. Hmft...

Ada Mbak Mira di belakang :p
Sampai di lokasi, saya lari-larian karena ketika turun dari taksi, saya melihat di layar, Teh Melly Goelaw dan suaminya serta Marthino Lio sudah datang, bahkan sedang diwawancara oleh pembawa acara. Saya segera menuju meja resepsionis dan menyerahkan undangan. Kami sempat bersitegang karena panitia melarang saya masuk. Mereka mengatakan saya diperbolehkan masuk pukul 21.00 WIB. Saya ngotot, kalau saya harus masuk pukul 21.00 apa gunanya saya mendapat undangan Gala Premiere yang sekaligus Red Carpet? Pukul 21.00 WIB semua cast and crew tentu sudah masuk gedung bioskop. Kan saya jadi nggak habis pikir sama panitia ini.

Lelah berdebat, saya akhirnya mengalah dengan menanyakan pintu masuk lain. Panitia menunjuk ke samping gedung. Setengah berlari saya menuju kesana. Di pintu samping, pengamanan tidak kalah ketat. Yang lebih parah, penjaga di gerbang pintu samping tidak "dipersenjatai" handy talky. Ketika saya menyampaikan saya diminta masuk dari pintu samping, mereka bilang akan mengkonfirmsai dahulu ke pintu depan dengan cara... LARI KESANA. Oh my God like seriosly acara sebegini heboh dan kalian nggak bawa HT? Jadilah saya dan mereka bersitegang lagi. Mereka bilang saya harus masuk dari pintu depan, di pintu depan saya di lempar ke pintu samping. Mas Nico... lelah lahir batin saya ini Mas...

Akhirnya, di sela keputus asa an itu, dari belakang saya mucul sepasang suami istri. Mereka juga awalnya tidak diperbolehkan masuk, lalu si suami menyebutkan nama, yang saya yakini sebagai "orang dalam". Tidak lama, seseorang muncul dari kerumuman panitia dan menyapa pasangan suami istri ini dengan bahasa Jawa: oalah wes tekan to. Rak kondho-kondho (oalah sudah sampai. Kok nggak kasih kabar), lalu si panitia yang sepertinya senior ini meminta penjaga membukakan pintu gerbang. Saat itulah akhirnya saya dan 2 teman yang saya beri tiket ikut masuk!! Hahahaha meski dengan insiden kamera saya nyaris jatuh karena tersenggol seorang jurnalis berbadan besar dan berlensa panjang yang tergesa-gesa dan PRAK!! tutup lensa kamera saya terlepas dan terjun bebas. Untung tidak terinjak, dan... si mas tidak meminta maaf. Menoleh pun tidak. Saya merasa tercampakkan. Huhuhuhu. Ini agak drama memang.
*lap keringet*

Berhasil masuk ke venue dengan cara lumayan melelahkan (meski saya memiliki undangan), saya makin lega mengetahui bahwa bintang-bintang utama AADC 2 belum tiba. Fiuh.... segera saya bersiap mengeluarkan kamera. Di red carpet, saya lihat produser dan sutradara AADC yaitu duo Mbak Mirles dan Mas Riri sudah hadir dan tengah asyik mengobrol dengan beberapa orang yang cukup terkenal seperti Iwet Ramadhan, Cut Mini dan beberapa orang lagi. Mereka berdua kompak berpakaian warna hitam.


Saya juga melihat booth-booth sponsor di sana. Ada yang membagikan produk secara gratis. Memang sih, di hawa dan suasana panas Jogja malam itu, kami semua pasti butuh air mineral dan es krim! Hihihi ;)

Setelah membaca situasi beberapa saat, saya sudah mulai paham jalur-jalur yang nantinya akan di lewati oleh cast and crew. Ketika itulah, di depan saya, berdiri seseorang yang sepertinya tidak asing. Beliau mengenakan celana hitam, kemeja abu-abu dan berjas hitam. Memakai kacamata dan sepatu kets. Gayanya santai. Saya ragu-ragu. Ini Aan Mansyur bukan, ya? Maklum, selama ini saya hanya melihat beliau di akun-akun sosial media serta membaca tulisan nya di blog. Beliau tidak terlalu sering memajang foto diri, jadi saya ragu dan malu kalau ternyata salah orang.

Saya menunggu beberapa saat sambil iseng membuka akun instagram beliau, makin kesini makin yakin dan tiba-tiba, ada Bernard Batubara, seorang penulis yang bermukim di Jogja, menyalami  lalu mengobrol hangat dengan lelaki berjas hitam itu. Yakin lah saya bahwa beliau memang Aan Masyur, seseorang yang ada di balik puisi-puisi Rangga. Puisi dengan kekuatan magis yang sanggup meremuk redamkan hati dan menyesakkan dada. Tanpa pikir panjang lagi, saya mendekati mereka dan meminta foto bersama.

Mengetahui keterlibatan Aan Mansyur di AADC 2 sejak awal karena mengikuti akun sosial media nya membuat saya bersyukur bisa berjumpa langsung malam itu. Beliau ini keren, masih muda, brilian dan romantis. Hihihi. Jangan salah, saya sudah mengenal dan membaca karya Aan Mansyur  jauh sebelum beliau terlibat di AADC 2. Jadi, pertemuan saya dengan nya malam itu saya anggap sebagai pembayaran lunas rasa kagum saya sejak awal saya membaca Kukila. Kumpulan cerpen yang beliau tulis.

Si baju putih seneng bgt ketemu 2 penulis sekaligus ;)


Bersambung...
 








No comments:

Post a Comment

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me