Wednesday, September 21, 2016

Orang Utan dan Perjalanan yang Mengubah Hidup


Tahun ini, saya punya beberapa target pencapaian. Salah satunya, yang membuat saya meriang dan panas dingin adalah menyelesaikan studi. Bagi saya, menyelesaikan studi adalah sebuah perjalanan. Punya banyak makna, bukan hanya dari sisi akademis bahwa saya berhak menyandang  gelar baru di belakang nama, menjalani prosesi wisuda, diberi karangan bunga serta ucapan selamat dan lain sebagainya. Menyelesaikan studi adalah menepati janji. Pada diri sendiri. Pada orang tua yang mendoakan setiap hari. Menyelesaikan studi adalah menghela nafas sejenak, mengambil jeda untuk kemudian berjuang dengan lebih gigih lagi.

Nah, di waktu jeda itu, saya ingin sekali melakukan hal yang tidak biasa. A life changing experience, saya menyebutnya. Sebuah perjalanan yang dapat mengubah hidup. Bisa prinsip, bisa pandangan, bisa juga menambah pengetahuan dan memperluas pertemanan, apapun itu. Yang terlintas di pikiran saya adalah saya ingin melakukan sesuatu yang saya senangi, tetapi punya efek bahagia yang paripurna, yang bisa membuat saya banyak bercerita setelahnya, dan orang yang mendengar setidaknya bisa mengambil nilai atau mendapat pengetahuan dari cerita saya.

Saya memang senang bercerita. Untuk alasan itulah saya memiliki blog, kalaupun misalnya tidak ada teman yang kebetulan bisa saya ajak bicara, saya bisa menulisnya dengan senang hati. Belakangan saya sedang senang bepergian dan tentu saja saya menuliskan cerita perjalanan saya di blog. Bukan semata-mata karena ingin berbagi informasi atau "pamer", tetapi juga untuk kepuasan saya sendiri. Setidaknya saya punya kotak pandora kenangan perjalanan yang sewaktu-waktu bisa saya buka kalau nanti ingatan saya sudah melemah karena faktor usia. Hihi. 

Singkat kata, saya menceritakan keinginan itu pada sahabat saya. Setelah menyimak dengan seksama, dia bilang saya mungkin harus mengunjungi tempat yang saya cita-citakan dari kecil, atau tempat yang saya banget atau menjadi relawan untuk lembaga sosial atau lokasi-lokasi konservasi. Yang terakhir itu menarik perhatian saya karena ketika kami membicarakan keinginan saya itu, isu kebakaran hutan sedang merajalela. Pemberitaan tentang kebakaran hutan dan dampaknya memenuhi media di sana sini. Memikirkan hutan yang terbakar, saya lantas teringat spesies primata yang paling mirip dengan kita manusia: orang utan. Apa kabar mereka?

Sebetulnya bukan hanya kali ini saya penasaran dengan nasib orang utan. Saya sudah cukup lama berlangganan newsletter dari lembaga konservasi besar untuk paling tidak mengetahui apa yang terjadi pada hewan-hewan yang nyaris punah di Indonesia ini. Saya mengikuti beberapa akun media sosial para penggiat konservasi dan berpartipasi jika mereka membagikan informasi apa-apa yang dapat orang awam lakukan untuk sedikit membantu kelangsungan hidup hewan-hewan yang "rumah" nya dirusak paksa ini.

Sumber foto: bumikalimantan.com
Saya gembira ketika menyadari banyak sekali tagar-tagar berseliweran di sosial media tentang penyelamatan orang utan dan bagi orang seperti saya, yang belum bisa melakukan sesuatu secara langsung hal ini melegakan. Setidaknya, saya bisa memberi sumbangsih, meski belum maksimal. Saya salut banyak sekali orang kreatif yang menggalang dana dengan cara sederhana. Para pembaca diminta mengunggah foto memeluk misalnya, lalu diberi tagar #PelukUntukOrangUtan dan ternyata setiap foto yang diunggah bernilai rupiah yang akan digunakan untuk merawat si kera besar itu. Ada lagi tagar #SaveOrangUtan dan tagar #NowhereToClimb yang dipopulerkan sebuah akun konservasi dan lalu di sebarkan oleh banyak penggiat lainnya atas keprihatinan mereka bahwa kini orang utan tidak lagi banyak memiliki pohon untuk dipanjat dan dahan pohon untuk digelayuti. Yang membuat saya semakin salut, mereka juga membuka kanal-kanal bantuan bagia siapapun yang ingin menyumbang, lengkap dengan sistem pelaporan yang nantinya akan diterima oleh si penyumbang secara berkala.

Berbicara soal orang utan, saya sudah lama mendengar bahwa ada satu tempat di Borneo yang merupakan Taman Nasional tempat dimana kita  masih bisa melihat orang utan di habitat aslinya. Tempat itu juga sering disebut sebagai ibukota nya orang utan, hihi. Tempat yang dimaksud adalah Taman Nasional Tanjung Puting di tengah-tengah Pulau Borneo. Disebut ibukota karena di TN Tanjung Puting jumlah orang utan masih cukup "banyak", dan di situ pula aktivitas-aktivitas orang utan berlangsung. Maka, seperti juga bagi kita, Ibu kota adalah harapan. Pun Taman Nasional Tanjung Puting. Di tengah banyaknya pembakaran hutan, tempat ini menjadi oase. Di dalamnya, orang utan yang tersisa masih bisa melangsungkan hidup. Meski terkadang masih saja ada pemberitaan tentang tangan-tangan jahil yang melukai para orang utan ini.

Lihat mata sayu mereka :'(
Sumber foto: superadventure.co.id
Orang utan banyak diburu karena dianggap sebagai hama dan merusak tanaman perkebunan. Oleh sebab itu, mereka kerap dilukai dan dibunuh. Menyedihkan sekali membaca banyak kisah tentang orang utan yang ditemukan terluka akibat luka bakar, tebasan golok, tembakan senapan angin dan mengalami ketakutan hebat. Dua hal ini: pembakaran hutan dan perburuan adalah penyebab terus menurunnya populasi orang utan secara drastis. Padahal jika mau belajar lebih lanjut, keberadaan orang utan sangat bermanfaat. Mereka menyebarkan biji-bijian sepanjang wilayah yang mereka diami. Biji-biji itu nantinya akan tumbuh menjadi tanaman baru. Barangkali banyak orang belum mau meluangkan waktunya untuk membaca sabda alam dengan lebih jernih, bahwa seharusnya sebagai sesama makhluk hidup, kita tidak sepatutnya mengambil hak hidup makhluk lain dan merusak keseimbangan ekosistem. 

Orang utan telah banyak mengalami hal buruk, tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu. Dengan banyaknya gerakan-gerakan dan organisasi yang fokus ke penyelamatan orang utan di Indonesia, saya yakin perlahan kita bisa mengajak lebih banyak orang untuk peduli. Bagi orang yang belum ada kesempatan terlibat langsung dalam kegiatan konservasi seperti saya, ada banyak cara untuk turut membantu. Semua bisa dimulai dari hal paling kecil dan sederhana seperti ikut berkampanye di sosial media ataupun menyumbang dana langsung lewat lembaga konservasi terpercaya. Bisa juga dengan meminimalisir penggunaan barang yang dibuat dari kayu pohon seperti kertas dan tisu. Makin sedikit kita menggunakan, makin sedikit pohon ditebang, kan? Dengan begitu, kita akan merasa berguna dan telah sedikit berbuat sesuatu untuk negeri ini. 

Kembali ke rencana awal saya tadi, setelah memikirkan masak-masak, sepertinya saya memang harus berkunjung ke ibu kotanya orang utan. Melihat lebih cermat. Mempelajari dan merasakan atmosfer kehidupan mereka lebih lekat. Saya rasa ini akan sesuai dengan tujuan saya yang ingin melakukan a life changing experience. Saya yakin, sekembalinya dari sana, saya akan punya ber koper-koper kenangan, pengetahuan, dan cerita perjalanan.

Yang lebih menyenangkan, saya belum pernah ke Kalimantan. Padahal di kalangan para traveler, Kalimantan pasti masuk wishlist karena memiliki "si cantik" Pulau Derawan yang merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata bahari favorit di Indonesia. Derawan memang terkenal karena memiliki spot danau ubur-ubur tanpa sengat, titik selam yang berpemandangan menakjubkan, serta banyaknya penyu hijau yang lalu lalang. 

Jadi, sepertinya saya harus segera bersiap ya. Di Kalimantan, saya bisa belajar banyak di TN Tanjung Puting dan bersantai menikmati pantai di Pulau Derawan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hehe. Dengan begitu, perjalanan saya akan terasa makin berarti.




Lilis, she's now into a life changing experience








2 comments:

  1. KEREN niiih!
    Makasih ya sharingnya, moga nular semangatnya ke dirikuh

    bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  2. Duch jadi pengen ke tanjung puting liat orang utan

    ReplyDelete

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me