Thursday, May 4, 2017

Trip Planner, Tolong Jangan Kecilkan Hati Saya


Di jaman ketika bepergian sudah menjadi gaya hidup seperti sekarang, mudah sekali bagi kita yang ingin bepergian untuk memilih. Mau pergi dengan moda transportasi apa, backpacking atau luxury, private trip atau open trip dan sekian macam pilihan lain tergantung anggaran dan kenyamanan.

Seiring dengan hal itu, makin banyak juga orang-orang yang punya pengaruh di dunia traveling membuka bisnis di bidang pariwisata. Beberapa kali saya berinteraksi dengan selebgram dan atau orang-orang yang terjun ke bisnis wisata. Ada sebagian dari mereka yang saya rasa belum memahami esensi bepergian untuk kaum pekerja office hour seperti saya.

Misalnya ketika saya pergi ke Flores hanya 4 hari, banyak yang langsung berkomentar: 4 hari itu kurang, harusnya jangan 4 hari, lain kali kalau kesini lagi jangan 4 hari ya, atau komentar sejenis. Mereka mungkin nggak kepikiran, ucapan mereka mengecilkan hati kami, eh, saya ding. Saya. Siapa tahu orang lain cuek aja “dingresuloni” begitu. Bagi saya, yang di tempat kerja bahkan nggak ada kebijakan cuti (yes, it’s true, saya cuma bisa mengajukan ijin), 4 hari itu sudah sangat bagus. Ada hal-hal yang harus saya ceritakan baik tersirat ataupun tersurat pada pimpinan divisi sebelum memberanikan diri mengajukan ijin. Harus pandai membaca situasi apakah pekerjaan sedang menumpuk atau sebaliknya, dan tanggapan dari seorang trip planner yang mengatakan: “harusnya jangan 4 hari” biasanya membuat saya kecil hati. Like I have other choices, in fact I don’t.

Menurut saya, daripada bicara angan-angan, lebih baik fokus ke apa yang ada. Bagaimana 4 hari itu bisa jadi menyenangkan, bisa jadi sarana memulihkan energi, membangun kenangan yang akan lekat terus di hati sanubari, jadi nggak menutup kemungkinan si klien akan kembali lagi karena bagi saya pribadi, pergi ke suatu tempat bukan tentang seberapa banyak sudut yang akan saya datangi, tapi bagaimana saya menikmati perjalanan itu. Klise ya? Tapi itu benar adanya. Daripada grusa grusu demi sebuah: biar dikunjungi semua, saya lebih memilih santai menikmati sebisanya.

“Sayang kan sudah sampai Flores tapi nggak nginep di sini, nggak melakukan itu, nggak nyobain ini” saya tahu. Saya paham. Tapi saya nggak punya banyak waktu. Lain kali kalau ada kesempatan saya pasti akan kembali, tanpa perlu mereka beri justifikasi.

Sebaiknya seorang trip planner banyak berkomunikasi dengan klien, berapa lama waktu yang dimiliki, apa goalnya dari trip tersebut. Kalau pun waktu yang dimiliki tidak ideal menurut perhitungan trip planner, katakan saja: kalau mau melihat A, atau ke tempat B, lain waktu bisa balik lagi, karena kalau hanya sekian hari tidak memungkinkan. Saya rasa itu tidak akan mengecilkan hati orang-orang seperti saya.

Tulisan ini sangat subjektif. Betul-betul hanya dari sudut pandang saya. Ini murni pengalaman saya, murni tentang apa yang saya rasakan ketika sudah susah payah mengajukan ijin dan lalu mendapat tanggapan: harusnya jangan begitu, blablabla, it’s like I got punch on my face. Bisa jadi orang lain tidak merasakannya, tapi saya rasa membagikan apa yang kita dapat dari sebuah perjalanan, walaupun itu hanya bias-bias perasaan tetap akan ada manfaatnya. Setidaknya untuk saya sendiri. Bercerita selalu akan membuat saya lega.



Ps: ngresulo dalam bahasa jawa kurang lebih artinya keluhan






Lilis, a story teller


2 comments:

  1. Iyahhh Lis, kadang suka heran gitu sama trip planner ato siapapun lah tentang "engga cukup kalo cuma x hari disini". Lah udah bagus kita bisa minta ijin sehari. Hiks. Mungkin sebaiknya para trip planner memang lebih berempati.
    Anyway, udah bagus juga lilis engga mengeluh tentang hal2 lain. Hehe... That's a kind of you :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sebagai sesama yg diberi ijin sehari pun udh bahagia emang harus menyuarakan ini ya Kak. Karena, mau pelayanan sebagus apa pun, tanpa empati rasanya kita akan males balik trip planner itu lagi. Anw, bulan depan untungnya bukber nggak pake trip planner ya Kak hahahahah

      Delete

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me