Tuesday, December 19, 2017

Traveling di Musim Hujan? Why Not?

Hujan deras di Waerebo, Desember 2016

Sebagai orang yang di tempat kerjanya tidak ada peraturan cuti, saya, layaknya banyak orang lain, bisa menikmati liburan di akhir pekan atau akhir pekan yang agak panjang seperti Desember 2014 hingga Desember 2017 ini. Setiap Desember selama beberapa tahun itu, saya mengganti destinasi, walau kadang masih satu provinsi. Misalnya pada Desember 2014 saya ke Flores khusus untuk living on board, lalu di Desember 2016 saya ke Flores lagi untuk overland.

Pantai pink yang cerah, Desember 2014


Pada kedatangan saya yang pertama di 2014, saat itu terlalu banyak yang memberi masukan untuk menunda perjalanan plesiran karena musim hujan. Nanti snorkeling nggak seru dong, nanti nggak bisa dapet foto langit biru dong, nanti kalau hujan malah cuma stay di hotel dong dan lain-lain. Awalnya agak terpengaruh, sempat gamang, betul juga ya kata orang-orang ini. Apalagi, you know, I ‘am a gemini, gampang dipengaruhi dan agak plin-plan heuheuheu, tetapi akhirnya saya berangkat juga dan perjalanan itu sukses membuat saya pulang dengan berkoper-koper cerita dan juga rasa bahagia. Maka, desember tahun-tahun selanjutnya saya sudah menebalkan telinga. Haha!

Cuaca mendung di Desa Adat Bena, Desember 2016

Waktu itu saya nekat berangkat karena berfikir bahwa: hey, travel is about yourself. Kalau kita sudah sekian lama memimpikan untuk bisa pergi ke destinasi tertentu dan kesempatan itu datang, kenapa harus ragu? Bahkan untuk rencana trip yang sudah disusun secara matang pun kadang masih bisa meleset; apalagi ini hanya masalah perkiraan cuaca. Buat saya, pergi traveling artinya perjuangan menabung, menyisihkan uang ngopi2 cantik, mengurangi kebiasaan belanja baju sepatu tas dan make up, bagi-bagi anggaran dengan  rencana trip lain, dan macam-macam kebutuhan lainnya; dan atas perjuangan itu, saya merasa pantas memberi diri saya reward. Oleh sebab saya tidak bisa cuti, saya akan pakai kesempatan long wekeend, walaupun di bulan Desember yang bercurah hujan tinggi.

Walau mendung, tetap mendayung. Lhok Baintan, Desember 2015


Cuaca sekarang sulit kita prediksi. Menurut saya, yang penting kita siap dengan segala kondisi. Bawa jas hujan, jaket, alas kaki yang sesuai medan, dan lain-lain tergantung kebutuhan. Pertimbangan tentu perlu, tapi untuk menjadi terlalu khawatir saya rasa jangan.


Jadi, akhir dari tulisan ini adalah; di 2014 Flores menghadiahi saya sinar matahari berlimpah ruah, 4 hari berturut-turut. Air laut yang bersahabat sehingga saya bisa living on board dengan tenang dan bisa snorkeling di pantai pink dengan gembira.

 Sunset yg hangat di Labuan Bajo, Desember 2014

Dalam perjalanan menuju Pulau Rinca, Desember 2014

Panas di Pulau Komodo, Desember 2014
Pada Desember 2015 saya ke Sumatra Barat. Hanya dua kali saya “bertemu” hujan yaitu ketika mengunjungi kelok 9 di hari kedua dan ketika perjalanan ke bandara di hari keempat. Selebihnya, perjalanan ke Pulau Pagang dan Pasumpahan, Jam Gadang Bukittinggi, mencoba nasi kapau khas Uni Lis yg tersohor itu, Puncak Lawang, Danau Maninjau, Istana Pagaruyung, Lembah Echo Payakumbuh, sukses ditemani sinar matahari yang hangat.


Mendung di Lembah Harau, Desember 2015

Hujan di Kelok 9, Desember 2015
Puncak Pulau Paumpahan, Desember 2015
Lembah Harau yang cerah , Desember 2015

Di Desember 2016 saya ke Flores lagi untuk overland dan langit menurunkan hujan luar biasa deras dalam perjalanan saya dan teman-teman treking ke Desa Waerebo. Jalan menuju ke sana, tidak hujan pun sudah licin, bayangkan dengan hujan yang sangat deras, jalannya jadi... ya gitu deh heheheh. Apakah saya sedih? Tidak. Justru perjalanan jadi makin seru. Cuma kalau yang niat pengen motret milky way memang jadinya gagal. Itu persoalan lain ya. 

Menuju Waerebo dengan cuaca mendung, Desember 2016
                   

Menunggu hujan reda di Waerebo, Desember 2016

Foto-foto setelah hujan reda di Werebo, Desember 2016

Mendung di Kelimutu, Desember 2016

Mendung di Kelimutu, Desember 2016

Desember 2016 saya juga ke Kandangan, Kalimantan Selatan untuk mencoba rafting bambu di Sungai Amandit. Hujan sudah menyambut kami tidak lama setelah kami keluar dari bandara dan baru reda sekitar 5 jam kemudian. Hasilnya, esok harinya ketika kami rafting, debit air naik dan rafting menjadi sangat seru. Siangnya ketika menuju destinasi lain, matahari sudah nongol lagi.

Sungai Amandit dan yogini amatir, Desember 2016
Bukit Langara Kalsel, Desember 2016

Pasar Apung Kalsel, Desember 2016

Dengan pengalaman 3 tahun berturut-turut itu, sekarang saya sudah tidak ragu untuk bepergian di Bulan Desember. Masih untung ada tanggal merah panjang, kalau tidak, kan lebih sedih lagi karena cuti kadang-kadang hanya ilusi. Awww! Desember tahun ini saya akan ke titik paling selatan Indonesia: Rote. Can’t wait t share the story here also. Kalian pun, selamat berlibur ya. Semoga semakin menambah semangat ketika nanti kembali bekerja.



Lilis,

Selalu berusaha berdamai dengan hujan, dan kenangan

No comments:

Post a Comment

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me