Friday, April 20, 2018

Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Rote Jika Kamu Bukan Surfer

Mba Rina sebagai model, foto oleh Mas Yogo

Hai handai taulan semuanya, apa kabar? Sudah punya rencana liburan kemana nih? Mei kan banyak tanggal merah tuh. Kalau belum punya, tos dulu kita! Sambil nunggu ide mau kemana, enakan cerita soal liburan yang lalu kali ya. Ini cerita lanjutan soal Rote seperti yang sudah terposting di sini sebagai pembuka. Udah baca belum? Hehehe. Sebetulnya waktu ke Rote, saya dan kawan-kawan memang nggak punya itinerary, jadi spontan aja. Ngikut saran dan rekomendasi dari Bang Runi yang antar kami kemana-mana, dan ternyata tempatnya cakep-cakep. Kalau diibaratkan manusia, udah kayak Channing Tatum deh cakepnya.

Sebagai disclaimer, postingan ini lumayan panjang karena ternyata banyak banget hal yang bisa kita lakukan di Rote. Saya nulis sendiri, kaget sendiri. Kebiasaan deh. Tanya sendiri dijawab sendiri juga sering. Coba kalau orang-orang yang punya kebiasaan tanya-tanya: mana nih pacarnya? kapan nikah? dll itu mengikuti jejak saya ya. Mereka tanya sendiri, mereka jawab sendiri. Swajawab gitu. Niscaya populasi jomblo tertohok dan tersinggung akan menurun tajam. Eh, ini ngomongin apa sih tadi? Maap. Maap. Gemini emang gampang terdistraksi. Huhuhu. Baiklah mari kita fowkes.

So, if you are non-surfer just like us, you can do this in Rote:

1.      Keliling Pulau Ndana


Walaupun selama ini kita mendengar bahwa Rote adalah wilayah paling selatan Indonesia, sebetulnya ada satu pulau yang benar-benar merupakan titik paling selatan. Pulau Ndana namanya. Ndana adalah pulau kecil tidak berpenghuni, di sana hanya ada pos TNI. Para TNI itu berjaga di pulau secara bergiliran. Satu kelompok akan berjaga selama 10 bulan.

Pulau Ndana yang penuh semak-semak
Untuk pergi ke Pulau Ndana, kita harus sewa kapal dari Desa Oeseli. Aduh warganya baik banget, ramah, dan sangat welcome kepada pendatang. Dari Oeseli, perjalanan ke Pulau Ndana tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 40 menit – 1 jam, tergantung gelombang. Sampai di Pulau Ndana, kita akan dijemput bapak-bapak atau mas-mas (soalnya masih muda dan kebanyakan dari Jawa) TNI untuk berkeliling menggunakan motor viar.

Mereka akan membawa kita ke tugu 0 Km, patung Jendral Sudirman dan mengajak kita ke beberapa danau kalau kita mau. Waktu itu saya dan teman-teman hanya ke danau merah, karena takut kesorean. Di danau merah, ada kata yg tidak boleh disebut, jadi sebelum berangkat ada Bapak TNI yang akan memberitahukan kepada kita tentang hal ini.

Tugu Titik 0 Km Selatan NKRI



Selain Pulau Ndana, sebetulnya kita juga bisa keliling Pulau Ndao dan Pulau Do’o untuk snorkeling seperti Mbak Andien Aisyah dan Mas Febrian. Kami kebetulan tidak ke sana karena keterbatasan waktu. Semoga kapan-kapan bisa balik lagi. Hihi.

Bu Nurul memakai topi khas Rote bernama Ti'i Langga berlatar pantai di Pulau Ndana
Danau Merah 
Oh iya, sewa kapal dari Oeseli ke Pulau Ndana memerlukan biaya Rp. 1.000.000 per kapal dan sudah termasuk melipir ke Telaga Nirwana sekaligus. Kapalnya lumayan kok, diisi 6 orang juga bisa, jadi nggak mahal banget share costnya. Di Pulau Ndana, Bapak TNI tidak meminta uang, tetapi sebagai tamu yang baik, tolong pikirkan bahwa kita diantar keliling menggunakan motor viar mereka jadi sebaiknya siapkan uang bensin. Belum lagi kalau kita disuguhi makan.

2.       Mengintip Kecantikan Telaga Nirwana

Setelah keliling pulau Ndana, kita bisa mampir ke Telaga Nirwana. Sebuah telaga yang terbentuk dari air laut yang “terperangkap” batu-batu karas yang menjulang tinggi. Kalau dilihat dari atas, telaga nirwana ini sekilas berbentuk hati. Airnya hijau dan jernih. Trekingnya pun tidak lama. Lebih enak kalau ke sini pakai sendal treking deh, karena batunya tajam-tajam. Kaki akika kegores-gores perih-perih gimana gitu pas ke sana karena memakai alas kaki yang salah. Huhuhu.

Tolong abaikan si Mbak yang mau foto tapi mukanya malah ketutup kain itu, sungguh ter-la-lu
karena angle adalah KOENTJI

3.       Beach Hoping


Rote tidak akan lepas dari pantai. Ada beberapa pantai yang kemarin sempat kami datangi untuk sekedar main air atau duduk-duduk manja menikmati hidup. #halah. Eh tapi serius, waktu ke Rote kemarin bulan desember itu bukan best season buat para surfer, jadi Rote tidak terlalu ramai. Enak banget buat menenangkan diri dan menghilangkan kepenatan bekerja selama berbulan-bulan, atau mencari kedamaian bagi hati yang sedang patah berantakan. Hiks hiks. Kami ke beberapa pantai seperti Pantai Tunggaoen, Pantai Batu Pintu,  Pantai Tiang Bendera dan tentu saja yang paling terkenal: Nemberala. Pantai-pantainya bersih dengan pasir warna putih. Goler-goler deh sepuasnya di sana ehehehe.

Foto sama anak-anak lokal di Nemberala
juga sapi lokal hahaha
Pantai Batu Pintu

4.       Nontonin Surfer sambil Leyeh-leyeh di Bo’a


Baiklah ini kedengarannya aneh but we did. Bang Runi membawa kami ke Bo’a, padahal sepengetahuan saya (hasil googling), Bo’a itu ya pantai untuk surfing. Terus ngapain kami dibawa ke sana? Ternyata di sana ada satu bangunan, mau dibuat resort sepertinya, di mana kita masih boleh masuk untuk duduk-duduk manja di pinggir invinity pool memandangi surfer dari kejauhan. Sayangnya saya nggak begitu paham apakah kalau nantinya resort itu sudah beroperasi, mereka masih bisa menerima tamu yang tidak menginap di situ untuk masuk. Let’s check it out later. Btw nontonin ini dalam arti harfiah lho ya, nonton doang kok beneran deh, nggak sambil ileran liat badan mereka yang bagus-bagus. *istighfar neng

Resortnya cakep, mayan buat numpang ngelenturin badan

5.       Batu Termanu


Saya sudah clamitan pengen ke sini setelah melihat tayangan di Jurnal Indonesia Kaya. Batu Termanu adalah batu alami yang menjulang tinggi di lokasi yang juga tinggi. Nah jadi komplit deh tingginya. Perlu treking memang, tapi dikit kok, nggak nanjak-nanjak banget, walaupun tetep harus bawa minum ya. Aus bok; apalagi kalo pas cuaca panas. Batu Termanu ini ada legendanya, tapi saya nggak akan cerita di sini nanti kepanjangan ngalah-ngalahin pidato kenegaraan. Tempat ini adalah favorit saya di Rote karena pemandangannya surreal banget. Ada hamparan laut biru di satu sisi, dan perbukitan hijau di sisi lain. Hijau karena desember ya, kalau bulan-bulan kering ya akan jadi coklat bukitnya. Khas daerah NTT. Ditambah pas ke sana langitnya lagi cantik luar biasa. Ah.... jatuh cinta jadinya. Pantesan pas upload foto di sini, di captionnya Mbak Andien bilang kayak baru aja landing di Mars. Saking surrealnya.

Batu Termanu di belakang sana
Menuju Batu Termanu

Pose foto ala Rose Dewitt Bukater-nya Titanic,
Mbak ini Rose juga. Nama lengkapnya: tepung beras ROSE brand wkwkwwk

6.       Menengok Mercusuar di Ba’a


Di Ba’a, kami sempat mengunjungi mercusuar. Kami pikir, masuk ke sini harus bayar, ternyata tidak. Pengelola mempersilakan kami masuk untuk melihat-lihat. Walaupun tidak sampai naik ke puncak kejayaan mercusuar, kami sudah senang karena pemandangannya bagus menghadap laut. Uwuuuwwww.


Pemandangan dari dalam kompleks mercusuar

7.       Berenang Manja di Kolam Alami Mokdale


Begitu sampai ke lokasi ini, saya dan Nurul heboh sendiri kegirangan liat kolam alami yang airnya bening seperti kaca. Kolam alami ini nggak begitu luas, tapi memanjang, jadi di sisi satunya ada anak-anak berenang, di sisi lain yang lebih ke hulu ada ibu-ibu sedang cuci baju. Airnya seger banget alamak dan sekali lagi, nggak ada tiket masuk yang harus kami bayar. Yang mencuri perhatian kami, di situ ada papan yang dipasang oleh karang taruna setempat. Isi pesannya mak jleb banget. Good job, Kakak-kakak karang taruna.



8.       Belanja Tenun (Tentu Saja)


Pergi ke Nusa Tenggara dan tidak membeli tenun itu rasanya ada yang kurang, apalagi bagi first timer. Walaupun sudah ke Flores beberapa kali dan juga Sumba, belanja tenun tetap masuk agenda kami karena tiap daerah memiliki corak khasnya sendiri. Waktu itu kami dibawa Bang Runi ke desa sentra tenun, tetapi karena sedang natal, banyak rumah yang tidak terima tamu. Setelah sedikit keliling, mungkin ada yang kasian melihat wajah memelas kami, akhirnya mempersilakan mampir dan melihat tenun-tenun di rumah beliau dan akhirnya kami beli. Alhamdulillah ya, rejeki traveler baik budi.

9.       Lain-lain


Lain-lain ini adalah hal-hal yang tidak saya dan teman-teman lakukan karena keterbatasan waktu, tapi kami mendapatkan rekomendasinya dari orang-orang yang kami temui seperti: mengunjungi tangga 300 (katanya sih dari puncaknya kita bisa melihat sedikit daratan Australia), main air di laut mati, main air di pantai mulut 1000, atau kalau yang suka banget diving, di Rote ada beberapa spot diving juga. Buat yang cuma mau goler-goler santai menghamburkan uang (tapi ndak dengan cara ala Bu Dendy yhaaa nyoh nyoh) bisa juga nyoba nginep-nginep cantik di resort yang ada di Nemberala. Dijamin akan menyedot isi dompet kita selaku #sobatqismin heuheuheu.

Bengong-bengong mikirin idup juga boleh tsayyy
Sebetulnya ada poin ke 10 yaitu: jatuh cinta lalu ingin balik lagi hahahahahaa yatapi nanti sama pembaca dibilang baper. Hadeuh... Padahal perempuan baper kan udah bisa ya Bu, sudah sejak jaman perjuangan kali eyang-eyang kita banyak yg baper sama Bung Karno. Eh maap kok jadi ngelantur. Padahal maksudnya jatuh cinta kan sama alamnya, sama kebaikan orang-orangnya, kalau saya sih terutama jatuh cinta sama anak-anak yang manis-manis dan sopan di Rote. Sangat mengesankan.


Baiklah handai taulan sekalian, itu hal-hal yang bisa dilakukan di Rote kalau kita boro-boro bisa surfing, pegang papannya aja embuh. Kalo kata Bu Nurul, bisa ngglewang huahaha. Oh iya ini penting juga, di Rote sinyal bagus pakai telkomsel, sampai ke daerah yang agak pinggir pun. Ini hal lain yang bikin takjub juga. Waktu itu sih provider lain masih agak anu, nggak tahu kalau sekarang. Jadi kalo kamu tipe orang yang nggak bisa banget nggak ada sinyal, jangan khawatir. Ini bukan iklan atau endorse lho, cuma berbagi pengalaman aja. Selamat berburu tiket ke Rote, titik terselatan Indonesia, ya!


Lilis
Berkelana dari satu titik ke titik lain








Info tambahan:
Kalau mau diantar keliling sekalian dibookingkan penginapan dll bisa hubungi Bang Paul di nomor 0821-4455-7800

No comments:

Post a Comment

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me