Tuesday, April 10, 2018

ROTE DAN (BUKAN) PESELANCAR

Suatu hari yang cerah di Rote

Saya dan tiga teman saya yang lain: Mas Yogo, Nurul dan Mba Rina bukan peselancar. Blas nggak ada tampang peselancar juga. Maklum, kami lahir dan besar sebagai anak-anak agraris #alibi. Ibarat kata jangankan berselancar, kami sedang snorkeling, kena ombak dikit aja panik setengah mampus, gimana mau belajar selancar yakan. Bisa-bisa surfing coach-nya baru nyuruh paddle, kami malah memeluk dia erat-erat. Huahahaha maaf kok jadi clamitan. Itu sih modus ya sist.

Nah, karena kami berempat ini bukan peselancar, teman-teman kami yang mengetahui rencana kami pergi ke Rote pada libur akhir tahun lalu banyak yang terheran-heran. “Kalian ke Rote ngapain sih? Orang tuh liburan ke Komodo, ke Derawan, ke Lombok, ke Bali” dan komentar-komentar lain yang sangat variatif. Maklum, namanya juga hidup. Kami yang nabung, kami yang beli tiket, kami yang piknik, orang lain yang berkomentar. Biar seru mungkin ya. Coba kalau di dunia ini nggak ada yang saling berkomentar, alangkah bosan. Hehehe.

Pada dasarnya, kami ini bukan tipe orang yang piknik demi mengejar spot-spot fotojenik. Kami bukan orang yang terkena tekanan visual sehingga harus banget foto di tempat yang sedang hits dan kekinian. Ketika kami bepergian, kami selalu memiliki point of interest terhadap suatu tempat. Mengenai Rote, saya dan Mas Yogo punya beberapa hal mengapa kami sangat ingin ke sana walaupun kami bukan peselancar. Nurul dan Mba Rina untungnya ngikut dan seneng-seneng aja. Kita tahu kan selama ini Rote terkenal sebagai destinasi surfing impian, gimana enggak, Rote memiliki jalur ombak terpanjang di Indonesia yang menggulung ke kiri dengan putaran yang spektakuler (ini hasil saya googling hehehe). Rote adalah destinasi surfing kelas dunia, jadi yang berbondong-bondong datang ya biasanya peselancar. Surfer yang badannya cuco-cuco ya boookkk. *teteup *sing eling neng, nyebut neng*

Salah satu pantai di Rote
Nah karena saya bukan peselancar, saya punya alasan sendiri kenapa ingin ke Rote yang akhirnya terwujud Desember lalu. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kenangan adalah komoditas. Kenangan bisa menjadi hal yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu di masa depan. Waktu SD dulu, guru geografi saya bisa menjelaskan fenomena alam dengan sangat menarik, tentang Danau Toba, tentang batas-batas terluar NKRI yang terpatri di ingatan saya hingga kini. Ditambah lagi, jaman kecil pas masih suka nonton stasiun TV RCTI, ada video seorang nenek mengacungkan jempol dari atas jukung di pasar apung di Kalimantan Selatan, seorang penyelam yang juga mengacungkan jempol dari kedalaman sekian meter di TN Laut Bunaken, dan seorang laki-laki sedang meniup alat musik Sasando dari Rote. Kenangan-kenangan itu membekas di pikiran saya, sehingga ketika dewasa, sudah bekerja dan bisa menabung untuk kebutuhan tersier, saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang saya kenang dengan baik itu.

Bukit-bukit teletubbies nggak cuma ada di Bromo, di Rote juga ada nih ;)
Maka jadilah libur akhir tahun lalu kami berempat terbang ke Kupang, transit selama 5 jam, lalu terbang lagi ke Rote. Senang bahwa sekarang baik menuju Rote maupun Alor sudah ada penerbangan setiap hari sehigga mempermudah perjalanan kami. Tentang orang-orang yang selalu saja bertanya: mau ngapain di Rote? Ada apa di sana? Kan kalian nggak surfing?, well, bagi kami perjalanan tidak harus selalu ada apa dan lihat apa.

Kami senang bertemu orang-orang baru (lagi) di Rote. Merasakan nilai-nilai hidup baru dari orang yang kami temui. Mendengar dan melihat kebiasaan-kebiasaan baru. Ketemu para tentara yg tangguh, berbulan-bulan hidup di pulau terluar meninggalkan keluarga juga mendengar legenda-legenda. Adapun pemandangan laut dan pantai yg super cantik hanya bonus belaka.

Jadi, soal kami akhirnya kemana saja selama di Rote, nanti akan saya bahas di postingan khusus ya. Minggu depan deh habis postingan ini naik. Anggap saja ini hanya pembuka. Lalu ada yang jawab: pembuka aja sepanjang ini deh sis, kayak pembukaan UUD 45 ya. Huahaha.

Spot favorit saya di Rote: Batu Termanu
Ps: semua foto yang ada di postingan ini tanpa editan sama sekali, karena saya juga nggak bisa ngedit sih. Yes, ketika kami datang, langit Rote sedang secantik itu. Cerah. Seperti wajah perempuan yang sedang jatuh cinta. Eeeaaaa.








Lilis,
Si peselancar kata-kata

2 comments:

  1. Replies
    1. Adek, tunggu postingan uni tentang tempat-tempat yang uni dan teman-teman kunjungi selama di Rote yah. Biar semakin mantep. Ehehehehe btw maacih sayang udah mampir.

      Delete

About

About Me Soal bepergian dan bertemu orang baru, saya memang suka. Tetapi sejak lulus kuliah lalu mendapat pekerjaan, kebiasaan itu seperti terhenti begitu saja. Saat itu saya merasa enjoy dengan pekerjaan yang memang saya idam-idamkan. Perasaan bahagia saat itu muncul karena sebagai mantan mahasiswa (yang saat itu baru lulus) yang dulunya selalu mendapatkan uang saku dari orang tua lalu tiba-tiba bisa menghasilkan uang sendiri. It fells really really good.
  • 436 Followers

  • Author

    authorBetapa Tuhan memberkahi saya dengan kesehatan dan kesempatan.
    Lebih Lanjut →



    Tweet Me